Showing posts with label Kajian. Show all posts
Showing posts with label Kajian. Show all posts

Keutamaan dan Kebijaksanaan Tahajjud

October 13, 2023

Keutamaan dan Kebijaksanaan Tahajjud: Meraih Ketenangan di Tengah Malam

Tahajjud adalah salah satu ibadah yang sangat penting dalam Islam, namun seringkali terabaikan. Dalam panduan ini, kita akan menjelajahi keutamaan dan kebijaksanaan yang terkandung dalam tahajjud, serta bagaimana ibadah ini dapat membawa manfaat bagi kita sebagai individu yang mencari kedekatan dengan Allah.



1. Kedalaman Malam dan Kekhadiran Allah

Tahajjud adalah saat di mana seorang Muslim bangun di tengah malam, saat sebagian besar dunia tidur. Saat ini, seseorang berdiri dan bersujud di hadapan Allah tanpa ada yang melihat. Inilah saat di mana kita merasa Allah sangat dekat dengan kita, karena kita berkomunikasi dengan-Nya dalam keheningan malam. Kedalaman ini diperkuat oleh firman Allah dalam Al-Quran:

"Dan bangunlah malam hari dengan shalat sebagai tambahan (amalan), mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."(Surah Al-Isra, 17:79)

Ayat ini menunjukkan keutamaan bangun di malam hari untuk beribadah dan berkomunikasi dengan Allah.

Pentingnya Spiritualitas dalam Analisis Psikologis

September 30, 2023

Memahami Pentingnya Spiritualitas dalam Analisis Psikologis: Panduan dari Al-Quran



Dalam dunia yang semakin canggih dan kompleks ini, pertanyaan tentang peran ilmu pengetahuan dan spiritualitas dalam analisis psikologis menjadi semakin relevan. Kita hidup dalam era di mana ilmu pengetahuan telah menghadirkan berbagai penemuan dan teori yang membantu kita memahami aspek psikologis manusia. Namun, sering kali kita cenderung mengabaikan aspek spiritual dalam pemahaman diri.

Islam sebagai agama yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas. Tulisan ini mengajak kita untuk merenungkan bagaimana kita dapat menjaga keseimbangan tersebut dalam analisis psikologis kita.

7 [ tujuh ] Ke Utamaan Bulan Ramadhan

May 2, 2021

Bulan puasa itu atau ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa. Ini dikarenakan begitu banyaknya kelebihan pahala ibadah di bulan ramadhan dibanding bulan-bulan yang lain. Hal ini tentu saja sangat disadari / oleh banyak umat muslim di antara kita, sehingga dimanfaatkan untuk berlomba-lomba mengerjakan dan meningkatkan ibadahnya.

Ada 7 [ tujuh ] amalan ibadah utama, di bulan Ramadhan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, untuk ditingkatkan selama bulan tersebut.

Amalan apa saja itu simak penjelasannya di video berikut;


PANDANGAN MATA KETIKA SHALAT

October 31, 2018

Terkait dengan arah pandangan ketika salat, dalam kaifiyat salat Nabi berdasarkan hadits-hadits adalah sebagai berikut:



Pertama, pandangan ke tempat sujud yaitu ketika sebagai asal dalam salat, berikut hadis dari sahabat Anas bin Malik :

قال النبي صلى الله عليه وسلم: "مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَھُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي صَلاَتِهِمْ فَاشْتَدَّ قَوْلُهُ فِي ذَلِكَ حَتَّى
قَالَ لَيَنْتَهُنَّ عَنْ ذَلِكَ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُھُمْ


"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kenapa orang-orang mengarahkan pandangan mereka ke langit ketika mereka sedang shalat? Suara beliau semakin tinggi hingga beliau bersabda: "Hendaklah mereka menghentikannya atau Allah benar-benar akan menyambar penglihatan mereka." (Sahih al-Bukhari, 1/150) .

Imam al-Bukhari menempatkan hadis tersebut dalam bab mengangkat pandangan mata ke langit ketika salat, berdasarkan petunjuk secara manthuq dalam hadis terkait dengan larangan mengarahkan pandangan kelangit ketika salat . Maka mafhum mukhalafahnya kita diperintahkan untuk
menundukan panda-ngan ketika salat atau melihat ke arah tempat sujud. Imam asSyaukani dalam
Nail al-Authar membuat bab melihat bab pandangan orang yang salat ke tempat sujudnya dan larangan melihat ke atas ketika salat” dan menem-patkan hadis diatas sebagai salah satu argumentasinya.

Kedua, disunnahkan pandangan ke arah telunjuk ketika tasyahud

عَنْ عَبْدِ اللهَِّ بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ رَأَى رَجُلاً يُحَرِّكُ الْحَصَى بِيَدِهِ وَھُوَ فِي الصَّلاَةِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ لَهُ عَبْدُ اللهَِّ لاَ تُحَرِّكْ
الْحَصَى وَأَنْتَ فِي الصَّلاَةِ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَلَكِنْ اصْنَعْ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللهَِّ صَلَّى اللهَُّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ قَالَ وَكَيْفَ
كَانَ يَصْنَعُ قَالَ فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ الَّتِي تَلِي الإِْبْهَامَ فِي الْقِبْلَةِ وَرَمَى بِبَصَرِهِ إِلَيْهَا أَوْ
نَحْوِھَا ثُمَّ قَالَ ھَكَذَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهَِّ صَلَّى اللهَُّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَع.ُ

dari Abdullah bin 'Umar dia melihat seorang laki-laki menggerak-gerakkan kerikil dengan
tangannya saat shalat. Setelah selesai, Abdullah berkata kepadanya; "Janganlah kamu
menggerak-gerakkan kerikil saat shalat,sesungguhnya itu perbuatan syetan. Berbuatlah sebagai-mana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam." la berkata; "Bagaimana cara Rasulullah
Shallallahu 'alaihiwasallam melakukannya?" Aku menjawab; "Beliau meletakkan tangan
kanan di atas paha kanan, lalu mengangkat jari telunjuknya ke arah kiblat dan mengarahkan
pandangan matanya ke jari tersebut -atau ke sekitarnya." Kemudian ia berkata, "Begitulah
cara Rasulullah Shallallahu 'alaihiwasallam melakukan-nya."
(Hr. Nasai, Sunan an-Nasai,
2/236)

Ketiga, boleh ketika berjamaah mengikuti pandangan ke arah imam untuk mengikuti
imam dan tidak mendahuluinya
. Di antara hadis yang menjelaskan hal tersebut adalah,

عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ قَالَ قُلْنَا لِخَبَّابٍ أَكَانَ رَسُولُ اللهَِّ صَلَّى اللهَُّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ قَالَ نَعَمْ قُلْنَا بِمَ كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ
ذَاكَ قَالَ بِاضْطِرَابِ لِحْيَتِهِ

dari Abu Ma'mar berkata, "Kami bertanya kepada Khabbab, apakah Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam membaca surah dalam shalat Zhuhur dan 'Ashar?" Dia menjawab, "Ya." Kami
tanyakan lagi, "Bagaimana kalian bisa mengetahuinya?" Dia menjawab, "Dari gerakan jenggot Beliau."
(H.R. Bukhari, Sahih alBukhari, 1/150)

Hadis di atas menunjukan para sahabat melihat gerakan Nabi
sallallahu alaihi wa sallam ketika dalam salat, tujuannya tiada lain untuk mengikuti gerakan imam dan tidak mendahuluinya.
Dengan demikian kesimpulannya, ketika salat di depan atau sekitaran Ka'bah, maka
salatnya menghadap Ka'bah dengan pandangan mata ke arah tempat sujud.
Wallahu A'la 

Baca Juga :

Trik Dapat Ampunan Dari Alloh

June 29, 2015


Meraih ampunan Allah SWT pada bulan Ramadhan adalah idaman Muslim, terutama bagi pendosa dan ahli maksiat. Adalah kerugian besar jika bulan suci ini hadir sementara ia tidak meraih ampunan-Nya. Sebab, Ramadhan merupakan bulan yang penuh ampunan Allah SWT.

Pada bulan yang penuh berkah ini, Allah membuka “bazar” ampunan seluas-luasnya. Pada bulan bertabur rahmat ini, ada amalan wajib yaitu shaum Ramadhan dan amalan sunah yaitu qiyam Ramadhan yang ditegaskan Nabi Muhammad mampu menghapuskan dosa yang lalu.



“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala di sisi Allah, niscaya dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari, nomor 38 dan Muslim nomor 760).

“Barangsiapa shalat malam Ramadhan (tarawih dan witir) karena keimanan dan mengharapkan pahala di sisi Allah, niscaya dosanya yang telah lalu diampuni.” (HR Bukhari, nomor 37 dan Muslim, nomor 759)

Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua dosa-dosa yang telah lalu bisa dihapuskan oleh puasa Ramadhan dan shalat tarawih. Dosa itu sebatas dosa-dosa kecil. Sementara, dosa-dosa besar tidak akan terhapus hanya dengan puasa Ramadhan dan shalat tarawih.

“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang kalian diperintahkan untuk menjauhinya, niscaya Kami akan menghapuskan kesalahan-kesalahan (dosa-dosa kecil) kalian dan Kami memasukkan kalian ke dalam tempat yang mulia (surga).” (QS An-Nisa [4]: 31).

Rasulullah berkhutbah kepada kami, cerita Abu Hurairah melalui Abu Said al-Khudry, dari atas mimbar. Beliau bersabda: “Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya. Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya. Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya.”
Beliau lalu terdiam sehingga setiap orang di antara kami mulai menangis karena sedih mendengar sumpah beliau. “Tiada seorang hamba pun yang shalat lima waktu, shaum Ramadhan dan menjauhi tujuh dosa besar, melainkan akan dibukakan baginya pintu-pintu surga pada hari kiamat, sampai suara pintu-pintu surga itu berderit-derit.”

Lalu, beliau membacakan ayat: “Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang kalian diperintahkan untuk menjauhinya, niscaya Kami akan menghapuskan kesalahan-kesalahan (dosa-dosa kecil) kalian.” (QS An-Nisa [4]: 31). (HR An-Nasai, nomor 2.438, Al-Hakim nomor 719 dan 2.943, serta Ibnu Hibban, nomor 1.748. Dinyatakan sahih oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi).

Dengan demikian, terhapusnya dosa oleh amal Ramadhan adalah dosa kecil sementara dosa besar belum atau tidak, kecuali dengan tobat yang serius, yaitu tobat nasuha (baca QS At-Tahrim [66]: 8).

Dengan memahami hal ini, harusnya kita semakin terpacu untuk segera bertaubat dan  menyusulnya dengan beramal saleh. Berikutnya, tauhid yang bersih merupakan kunci  meraih ampunan. Namun, hal ini tidaklah sesederhana dan semudah yang dibayangkan oleh kebanyakan orang.

Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda: Allah berfirman, "Wahai anak Adam! Seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa hampir sepenuh isi bumi lalu menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun, niscaya Aku pun akan mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR Tirmidzi, dan dia menghasankannya).

Hadis yang agung ini menunjukkan bahwa tauhid merupakan syarat untuk bisa meraih ampunan Allah. Karena itu, jadikan Ramadhan ini sebagai momentum membersihkan tauhid kita dari kesyirikan dan hal lain yang bakal merusakkan kebersihannya. Wallahu a'lam.

oleh : ustd arifin ilham
sumber : republika

Masuk Surga Bukan Karena Amal

March 3, 2014

سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا فَإِنَّهُ لَا يُدْخِلُ أَحَدًا الْجَنَّةَ عَمَلُهُ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ بِمَغْفِرَةٍ وَرَحْمَةٍ

    “Tepatlah kalian, mendekatlah, dan bergembiralah, karena sesungguhnya amal tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” Para shahabat bertanya: “Termasuk juga anda wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ya, termasuk juga saya, kecuali jika Allah menganugerahkan ampunan dan rahmat kepadaku.”

Untitled-1

Takhrij Hadits

Hadits di atas diriwayatkan dalam kitab berikut ini:

    Shahih al-Bukhari kitab ar-riqaq bab al-qashd wal-mudawamah ‘alal-’amal no. 6463, 6464, 6467.
    Shahih Muslim kitab shifat al-qiyamah wal-jannah wan-nar bab lan yadkhula ahadun al-jannah bi ‘amalihi no. 7289-7302.
    Sunan Ibn Majah kitab az-zuhd bab at-tawaqqi ‘alal-’amal no. 4201.
    Musnad Ahmad bab hadits Abu Hurairah no. 8233, 9830, 10011, 14944; bab hadits ‘Aisyah no. 24985, 26386

Matan Hadits

Dalam riwayat al-Bukhari no. 6463, tuntunan Nabi saw terkait hadits di atas ada enam, yaitu:

لَنْ يُنَجِّيَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِرَحْمَةٍ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاغْدُوا وَرُوحُوا وَشَيْءٌ مِنْ الدُّلْجَةِ وَالْقَصْدَ الْقَصْدَ تَبْلُغُوا

“Amal tidak akan bisa menyelamatkan seseorang di antara kalian.” Mereka bertanya: “Tidak pula anda wahai Rasulullah saw?” Beliau menjawab: “Ya, saya pun tidak, kecuali Allah menganugerahkan rahmat kepadaku. Tepatlah kalian, mendekatlah, beribadahlah di waktu pagi, sore, dan sedikit dari malam, beramallah yang pertengahan, yang pertengahan, kalian pasti akan sampai.”

Dalam riwayat al-Bukhari yang satunya lagi, no. 6464, Nabi saw di akhir pesannya menyatakan:

سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Tepatlah kalian, mendekatlah, dan ketahuilah bahwasanya amal tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga. Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah itu adalah yang paling sering diamalkan walaupun sedikit.

Sementara itu, dalam riwayat Muslim no. 7299, tidak hanya disebut tidak akan masuk surga saja, melainkan ditegaskan juga tidak akan selamat dari neraka:

لاَ يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَلاَ يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ وَلاَ أَنَا إِلاَّ بِرَحْمَةٍ مِنَ اللهِ

Amal tidak akan memasukkan seseorang di antara kalian ke surga dan tidak pula menyelamatkannya dari neraka. Demikian juga saya, kecuali dengan rahmat Allah swt.

Syarah Mufradat

Saddidu, asal katanya sadad; ketepatan, sesuatu yang tepat. Maknanya menurut Ibn Hajar, shawab; benar. Artinya, beramallah dengan tepat, benar, mengikuti sunnah dan penuh keikhlasan.

Qaribu yang bermakna ‘mendekatlah’ maknanya ada dua; pertama, jangan menjauhi amal seluruhnya ketika tidak mampu, dan kedua, jangan berlebihan dalam beramal sehingga merasa kelelahan dan bosan. Itu berarti ambillah pertengahan dalam beramal. Ketika malas tiba, bertahan dengan tidak meninggalkan amal seluruhnya, beramallah sedekat-dekatnya, tidak mampu 100% (sadad) beramallah 90% (qarib), dan ketika semangat tiba, beramal dengan tidak berlebihan karena akan menyebabkan kelelahan dan kejenuhan.

Ughdu artinya berpergianlah di waktu pagi, ruhu artinya berpergianlah di waktu sore, dan ad-duljah artinya berpergian di waktu malam. Kata ad-duljah disertai dengan kata syai` (syai` minad-duljah; sedikit/sesaat di waktu malam) karena memang berpergian di waktu malam cukup sulit. Menurut Ibn Hajar, ini seolah-olah isyarat agar shaum di sepanjang hari dari sejak pagi sampai sore, dan shalat tahajjud di sebagian malam. Walaupun, menurutnya, bisa juga diperluas untuk ibadah-ibadah lainnya. Ibadah dalam hal ini diibaratkan dengan berpergian/perjalanan karena memang seorang ‘abid (yang beribadah) itu ibarat seseorang yang sedang berpergian dan menempuh perjalanan menuju surga.

Al-qashda maknanya pertengahan. Dijelaskan dalam riwayat lain sebagai amal yang rutin dikerjakan (dawam) walaupun sedikit-sedikit.

Taghammada diambil dari kata ghimd yang berarti sarung pedang. Taghammada berarti menyarungkan, atau dengan kata lain menutup (satr). Jika dilekatkan dengan kata rahmat dan ampunan, berarti menganugerahkan sepenuhnya (semua penjelasan dalam syarah mufradat ini disadur dari Fath al-Bari kitab ar-riqaq bab al-qashd wal-mudawamah ‘alal-’amal).

Syarah Ijmali

Muncul diskusi di kalangan para ulama terkait hadits di atas; benarkah masuk surga itu bukan karena amal? Jika demikian apa gunanya amal kita? Bagaimana pula kaitannya dengan firman-firman Allah swt berikut:

“Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu amalkan”. (QS. An-Nahl [16] : 32)

Dan diserukan kepada mereka: “Itulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-A’raf [7] : 43. Ayat semisal terdapat juga dalam QS. Az-Zukhruf [43] : 72)

Satu hal saja yang harus dicatat, semua ulama hadits tidak ada yang menyatakan bahwa hadits di atas bertentangan dengan ayat-ayat tersebut. Semuanya menempuh metode jam’ (menyatukan, mengompromikan) karena memang hadits di atas jelas keshahihannya. Sebuah pertanda juga bahwa hadits yang shahih haram ditolak meskipun tampaknya bertentangan dengan al-Qur`an. Sedapat mungkin carikan komprominya, karena tidak mungkin Nabi saw menentang al-Qur`an. Dan itulah yang ditempuh oleh para ulama hadits sebagaimana akan diuraikan berikut ini.

Imam Ibn Bathal, sebagaimana dikutip Ibn Hajar dalam Fath al-Bari, menjelaskan bahwa surga itu ada beberapa tingkatan. Ayat-ayat yang menjelaskan masuk surga karena amal, itu maksudnya adalah menempati tingkatan-tingkatannya itu. Sementara masuk surganya sendiri, itu mutlak hanya berdasarkan rahmat Allah swt. Jadi, dengan rahmat Allah swt, seseorang ditentukan masuk surga dan tidaknya. Sesudah ada keputusan masuk surga, maka ketentuan masuk surga tingkatan yang mananya itu ditentukan berdasarkan amal.

Selanjutnya, Ibn Bathal menjelaskan, bisa juga maksud dari ayat-ayat dan hadits di atas adalah saling menguatkan. Artinya, masuk surga itu tergantung rahmat Allah swt juga amal-amal kita. Demikian juga, penentuan tingkatan yang mananya di dalam surga itu tergantung rahmat Allah swt dan amal-amal kita.

Imam al-Karmani, Jamaluddin ibn as-Syaikh, dan Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa huruf ‘ba’ pada ayat-ayat di atas bukan bermakna sebab (sababiyyah), melainkan bersamaan (ilshaq, mushahabah). Jadi bukan berarti masuk surga itu dengan sebab amal, melainkan masuk surga itu bersamaan adanya amal, karena sebab yang paling utamanya adalah rahmat Allah swt. Ini berarti bisa membantah pendapat Jabariyyah yang menyatakan bahwa masuk surga itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan amal, melainkan mutlak hanya rahmat Allah swt saja. Juga membantah pendapat Qadariyyah yang menyatakan bahwa masuk surga itu murni karena amal saja, tidak ada kaitannya dengan rahmat Allah swt.

Imam Ibn Hajar memberikan penjelasan yang sedikit berbeda. Amal seseorang walau bagaimanapun tidak mungkin menyebabkannya masuk surga jika pada kenyataannya amal itu tidak diterima oleh Allah swt. Nah, persoalan amal itu diterima atau tidaknya, ini jelas wewenang Allah swt, dan ini mutlak berdasarkan rahmat Allah swt (semua pendapat ulama di atas dikutip dari Fath al-Bari kitab ar-riqaq bab al-qashd wal-mudawamah ‘alal-’amal).

Sementara itu, jawaban yang cukup panjang dapat ditemukan juga dalam salah satu risalah (tulisan ringkas) Imam Ibn Taimiyyah yang dikodifikasikan dan diedit ulang oleh Syaikh Muhammad Rasyad Salim dalam Jami’ur-Rasa`il, dalam risalah no. 9 berjudul risalah fi dukhulil-jannah hal yadkhulu ahadun al-jannah bi amalihi am yanqudluhu qauluhu saw la yadkhulu ahadun al-jannah bi ‘amalihi; risalah tentang masuk surga, apakah seseorang masuk surga itu disebabkan amalnya, ataukah terbantahkan dengan sabda Nabi saw seseorang tidak masuk surga dengan sebab amalnya. Hal pertama yang ditekankan oleh Ibn Taimiyyah adalah tidak mungkin hadits Nabi saw yang shahih bertentangan dengan al-Qur`an. Selanjutnya, Ibn Taimiyyah juga menyatakan, huruf ‘ba’ yang ada dalam hadits dan ayat di atas, kedua-duanya memang menyatakan sebab. Hanya tentunya, menurut beliau, ketika sesuatu dinyatakan sebagai sebab, bukan berarti bahwa sebab tersebut adalah satu-satunya sebab dengan meniadakan yang lainnya. Contoh sederhananya adalah air hujan yang dinyatakan sebagai sebab tumbuhnya tumbuh-tumbuhan di bumi (QS. Al-Baqarah [2] : 164 dan QS. Al-A’raf [7] : 57). Tentu yang dimaksud bukan hanya air hujan saja yang dapat menyebabkan tumbuh-tumbuhan itu tumbuh, melainkan juga ada sebab lainnya seperti angin, tanah, sinar matahari, yang kesemuanya itu sangat tergantung pada rahmat dan anugerah dari Allah swt.

Hadits yang disampaikan Nabi saw di atas, menurut Ibn Taimiyyah, mengajarkan kepada kita untuk tidak memahami hubungan amal dan surga sebagai mu’awadlah; timbal balik, balas jasa, atau ganti rugi. Hal itu disebabkan pertama, Allah swt sama sekali tidak butuh terhadap amal kita, tidak seperti halnya seorang majikan yang butuh kepada para pekerjanya. Amal manusia untuk manusia sendiri, karena kalaupun semua manusia tidak beramal Allah swt tidak ‘peduli’, Dia akan tetap sebagai Yang Mahakuasa dan Mahaperkasa (Lihat QS. Al-Baqarah [2] : 286, Fushshilat [41] : 46, an-Naml [27] : 40).

Kedua, amal seorang manusia tidak diwujudkan oleh dirinya sendiri, melainkan berkat anugerah dan rahmat Allah swt juga, mulai dari menghidupkannya, memberi rizki, memberi tenaga, kesehatan, mengutus rasul-rasul, menurunkan kitab-kitab, menjadikannya cinta kepada keimanan dan menjadikannya benci terhadap kekufuran. Semua itu adalah berkat rahmat Allah swt.

Ketiga, amal seorang manusia setinggi-tingginya tidak akan senilai dengan pahala yang diberikan Allah kepadanya, karena dalam pahala itu Allah swt sudah melipatgandakannya dari mulai 10 kali lipat, 700 kali lipat, bahkan sampai kelipatan yang tidak dapat terhitung nilainya.

Keempat, nikmat dan kesenangan yang telah diberikan Allah swt kepada manusia selama di dunia, walau bagaimanapun tidak akan mampu dibayar oleh manusia. Seandainya manusia diharuskan membayarnya dengan amal, pasti mereka tidak akan mampu beramal untuk membayarnya. Padahal jelas, manusia bisa beramal itu berkat nikmat-nikmat Allah swt tersebut.

Kelima, manusia selalu diliputi oleh dosa dan kesalahan. Seandainya saja tidak ada ampunan Allah swt dan kebijaksanaan-Nya untuk hanya mempertimbangkan amal-amal yang baik saja, dengan mengenyampingkan amal jeleknya, tentu manusia tidak akan mungkin masuk ke dalam surga (Lihat QS. Az-Zumar [39] : 33-35, al-Ahqaf [46] : 16). Inilah di antara maksud sabda Nabi saw: “Ya, termasuk juga saya, kecuali jika Allah menganugerahkan ampunan dan rahmat kepadaku.”

Dari uraian panjang ini bisa ditarik kesimpulan bahwa amal tetap sebagai penyebab adanya balasan surga. Hanya berdasarkan hadits ini seseorang tidak boleh ta’ajjub (berbangga diri) dengan amalnya sendiri, karena di sana pasti ada peran rahmat Allah swt. Dengan hadits ini juga seseorang tidak perlu takalluf (mempersulit diri) dengan amal-amal yang dikerjakannya. Tetap optimis dengan amal-amal yang sudah, sedang dan harus dikerjakan, sebagaimana tuntunan Nabi saw: saddidu, wa qaribu, wa absyiru, wa-ghdu, wa ruhu, wa syai`un minad-duljah, wal-qashda wal-qashda, semuanya itu pasti akan menyebabkan kita tablughu; sampai pada cita-cita yang diidamkan (surga).

sumber : pemikiranislam.net

Naon Ari Munjung ?

February 28, 2014

Ki Udin

181278_318522191564779_263219776_n

DINA basa Sunda aya papagah anu unggelna “Ulah munjung ka gunung ulah muja ka sagara. Munjung mah kudu ka indung muja mah kudu ka bapa”. Éta papagah téh biasana diucapkeun ku hiji nini atawa ku hiji aki ka incuna. Lain ku kolot ka anakna. Da mémang kitu étikana. Lamun hiji nini atawa hiji aki boga incu geus gedé hég rada carékeun, biasana si nini atawa si aki sok papagah anu kawas kitu. Munjung téh asalna tina kecap punjung. Numutkeun Kamus Umum Basa Sunda Lembaga Basa jeung Sastra Sunda hartina “muja lantaran hayang beunghar jeung sajabana ku jalan kotor”. Ari munjungan nyaéta sasalaman kalawan hormat ka kolot atawa ka saluhureun (404, 1-11).

Numutkeun Kamus Basa Sunda R.A.Danadibrata pedalan Kiblat Utama, punjung téh hartina aya dua. Nu kahiji hartina tuturus (tina basa Malayu), ari anu kadua hartina ngadatangan saluhureun anu dianggap loba karamatna atawa berekahna. Munjung hartina ngadatangan anu rék dipunjung, saperti munjung ka para sepuh, ka Gunung Jati di Cirebon. Munjungan hartina  sasalaman bari nyanggakeun salam pangbaktos. Dipunjung-punjung hartina dipuja-puja. Pupunjung hartina pupuja. Pamunjungan hartina tempat munjung ti mana mendi (550, 1-1). Ari panjang-punjung hartina panjang umur jeung mindeng munjung ka sepuh (497, 1-5). Kitu saur R.A.Danadibrata dina kamusna.

Di urang geus ilahar, lamun aya jalma beunghar ngadadak (sok aya anu su’udzon) pajahkeun téh hasil munjung, saperti anu disebutkeun ku Kamus Umum Basa Sunda LBSS. “Meureun wé da si Éta mah munjung ka Cirebon”. Cék sakaol mah anu sok diparunjungna téh nyaéta sabangsaning sétan moyét, sétan oray, sétan bagong jeung sabangsaning sétan-sétan lianna. Mohammad Ambri sastrawan taun tilupuluhan nyerat hiji buku anu judulna Munjung anu ku Ayip Rosidi di-Indonésia-keun jadi Memuja Siluman. Ari eusi éta buku taya lian nyaritakeun perkara-perkara jeung jalma-jalma anu marunjung alias muhit ka sétan téa, kayaning ngipri, nyupang, nyegik, ngopét jeung sajabana. …… (ki Udin)

Sumber : majalah binadakwah

Umat sedang Menjadi Buih

February 27, 2014

Oleh : Nasihin Masha

“Islamisasi [di Jawa] merupakan proses yang diwarnai perbedaan dan kepelikan bahkan sejak periode awal”. Itulah kesimpulan Ricklefs, sejarawan Australia. Menurutnya, di satu sisi ada budaya hibrid, yaitu menjadi orang Jawa dan menjadi Muslim sekaligus bukan merupakan sesuatu yang problematis. Di sisi lain ada harapan untuk memilih antara menjadi Muslim atau menjadi Jawa.

cengkho

Karena beragama bukan hanya soal individual maka dimensinya kemudian mencakup segala hal. Ricklefs mencatat kenyataan ini sejak dini. Katanya, kaum priyayi meragukan bahwa Islamisasi adalah gagasan yang baik untuk masyarakat Jawa. Karena itu mereka merintis berdirinya Budi Utomo, yang kemudian tenggelam karena konservatisme mereka dan kalah bersaing dengan organisasi lain yang lebih modern dan lebih aktif. Bahkan Islam makin berkembang dengan pesat. Penjajahan Belanda merupakan salah satu faktor penguat perkembangan Islam.

Proses Islamisasi yang dialektis itu terus berlangsung hingga kini. Walau dikotomi abangan dan pada satu sisi kini tak relevan lagi, namun pada level tertentu tetap akan muncul. Kita menyaksikan proses Islamisasi yang kian massif. Namun dalam hal politik, ekonomi, bahkan wacana publik kita akan menyaksikan Islam tetap seperti di masa awal kedatangannya: pelik dan problematis. Ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya.

Mari kita lihat hal-hal sederhana ini. MUI adalah satu-satunya institusi keagamaan yang dijadikan olok-olok dan bulan-bulanan. Bahkan ada plesetan 'kami mendukung MU, karena tak ada I'. Jika MU saja maknanya adalah Manchester United dan ketika ada I menjadi MUI. Jika ada tokoh agama yang terpeleset maka dia akan ditoyor beramai-ramai sampai terjerembab tak bisa bangkit lagi. Terjadi penggelontoran dana dari asing untuk melemahkan doktrin-doktrin Islam. Perolehan suara partai-partai Islam yang rendah. Tak ada politisi dari garis santri yang moncer.

Di bidang ekonomi, umat masih lebih menjadi konsumen. Pelanggaran HAM terhadap umat tak ada pembelaan sama sekali. Misalnya hak untuk mengenakan jilbab di lingkungan TNI dan Polri, serta di lembaga-lembaga pendidikan non-Muslim. Demikian pula hak untuk mendapat pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah non-Muslim dan oleh guru-guru beragama Islam. Umat benar-benar sedang menjadi buih. Terombang-ambing tak berdaya. Wacana publik berbau Islam dicurigai sebagai tidak Indonesia. Tentu ini sangat menggelikan, terutama jika kita mengkaji sejarah negeri ini.

Wajah Islam yang sedang menjadi buih ini rupanya bukan monopoli Indonesia, tapi merupakan fenomena global. Tak ada perhatian dunia terhadap pembantaian dan pengusiran minoritas Rohingya dari negerinya sendiri di Myanmar. Pemberontakan minoritas di Afrika Tengah, yang kebetulan beragama Islam, dijawab dengan kehadiran pasukan Prancis. Umat Islam yang tak ikut memberontak ikut menjadi tertuduh, dibantai, dan diusir dari negerinya sendiri. Kita juga bisa menyaksikan lumatnya umat di Irak, Libya, Suriah, dan Mesir. Rasanya tak ada artinya lagi menyebutkan soal Palestina.

Di sini ikut disebut tentang fenomena global itu hanya hendak memperlihatkan bahwa apa yang terjadi di Indonesia bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Ada keterkaitan. Ada faktor geopolitik dan geoekonomi. Dan untuk menjawab semua itu hanya dengan dua hal: kepemimpinan umat dan persatuan Islam. Namun ada satu syarat, yakni rasa percaya diri. Umat ini mengalami ketidakpercayaan diri yang luar biasa. Di lapangan politik, para politisi dan partai-partai umat seolah harus ikut arus dengan mensyaratkan modal untuk memenangkan pemilu.

Akibatnya mereka terjebak dalam money politics, yang tentu saja kalah jaringan, kekuatan, dan keterampilan dalam permainan penggalangan dana. Sedangkan para pemimpin agama tergoda untuk masuk ke lapangan politik secara langsung. Kader-kader terbaik dan muda sebagian lebih suka menjadi tim sukses politisi dan pemain politik besar yang tak berbasis umat. Lebih baik menumpang daripada berjuang. Lebih baik kebagian daripada terkapar. Mengenaskan.

Ketidakpercayaan diri elite umat ini berdampak pada hilangnya keteladanan dan goncangnya pegangan. Yang semua itu menimbulkan gempa ketidakpercayaan diri yang massif. Kita berharap para pemimpin umat untuk menyadari kenyataan ini dan kembali ke tugas sucinya masing-masing. Hal ini penting bagi terbangunnya masyarakat yang adil dan makmur.

Riclefs sudah mengingatkan proses dialektis tiada henti untuk menjadi Islam Indonesia. Tak perlu ada yang dipertentangkan. Itu sudah proses berislam yang khas Indonesia. Namun yang penting dicatat adalah peringatan Ricklefs tentang hadirnya benih yang sejak awal tak menganggap Islam sebagai gagasan yang benar bagi negeri ini. Hal ini nyata dan tetap ada. Biarlah itu sebagai kewajaran. Itu menjadi semacam pengingat untuk eling lan waspodo.

sumber: republika.co.id

Ringkasan Kitab To’am Syarah Riyadhu ash-Sholihin

January 13, 2014

Di Kirim Oleh Ust Jajang Solih via Fb Group ppi73

makan dengan tangan

JAMA’AH KAJIAN KITAB KUNING PESANTREN PERSIS 73 GAROGOL PASIRWANGI GARUT

ADAB MAKAN DAN MINUM

A. ETIKA MAKAN

1. Sebutlah nama Allah sebelum makan

2. Minimal mengucapkan ‘BISMILLAH’, atau lebih utama mengucapkan “BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM”.

3. Jika lupa membaca do’a di awal, maka bacalah “BISMILLAHI AWWALAHU WA AKHIROHU”

4. Wajib makan dengan tangan kanan.

5. Haram makan dengan tangan kiri, karena:

* Berbuat dosa kepada Allah

* Takabur dari perintah rasulullah (sombong)

* Perbuatan syetan

6. Boleh makan dengan tangan kiri kalau keadaan darurat/ada halangan.

7. Jika makan berjama’ah, maka makanlah makanan yang ada di hadapan, kecuali (menurut pendapat ulama) kalau makanan terdiri dari berbagai jenis.

8. Jika makan sendirian, boleh menjulurkan tangan untuk mengambil makanan yang tidak ada di hadapan.

9. Ajarkanlah kepada anak-anak tentang etika makan.

10. Jangan mendahului makan sebelum orang yang lebih terhormat makan.

11. Jika makan berjama’ah, maka dianggap cukup seorang saja yang berdo’a dengan niat untuk semua. Yang paling afdhal adalah masing-masing membaca do’a sebelum makan.

12. Boleh menahan tangan seseorang yang hendak makan, jika tidak terdengar membaca do’a terlebih dahulu.

13. Jika disodorkan hidangan bacalah do’a:

الحمد لله كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَرَكًا فِيْهِ غَيْرَ مَكْفّي وَلاَ مُوَدَّعٍ وَلاَ مُسْتَغْنَى عَنْهُ رَبُّنَا

14. Setelah makan bacalah do’a:

الحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

15. Makanlah makanan yang dekat dengan kamu

16. Tidak boleh mengambil dua kurma atau yang sejenisnya, yang biasanya dimakan satu persatu, sebelum mendapat izin dari saudaranya.

17. Penyebab tidak merasa kenyang ketika makan, karena tidak mendapat barokah:

* Tidak membaca do’a sebelum makan

* Makan tidak dimulai dari pinggir

* Makan tidak secara berjama’ah

18. Barokah terdapat di tengah-tengah makanan, maka makanlah mulai dari pinggir makanan, hindarilah mendahulukan bagian atas makanan.

19. Tidak boleh makan sambil bersandar di tempat yang empuk

20. Aturan makan yang sehat adalah: sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk bernafas. Ini akan melancarkan proses pencernaan makanan.

21. Makanlah ketika sudah merasa lapar.

22. Boleh makan sampai kenyang, dengan alasan dan pertimbangan tertentu (kasus Abu Hurairah)

23. Makruh makan sambil bersandar (merupakan perbuatan sombong terhadap Allah, dan menghambat proses pencernaan).

24. Makanlah dengan cara duduk, sambil bersandar atas kedua lutut (menghindari makan banyak).

25. Mesti makan dengan tiga jari (jari tengah, telunjuk dan ibu jari) ketika makan makanan yang dapat diraih dengan tiga jari.

26. Setelah makan mesti menjilati jari tangan atau menyuruh seseorang untuk menjilatinya (kalau mungkin).

27. Hendaknya menjilati (membersihkan/menghabiskan) makanan yang tersisa di tempat makanan (wadah), barangkali barokah terdapat di situ.

28. Jika makanan terjatuh dari tempat makan, maka ambil-lah makanan itu, dan jika terdapat kotoran, buanglah kotorannya, kemudian makanlah makanan tersebut, jangan sampai menyisakan sedikit makanan-pun untuk syaitan.

29. Wajib berwudhu setelah makan makanan yang dimasak dengan api (pendapat sebagian ulama). Sebagian ulama mengatakan; tidak wajib berwudhu, akan tetapi sunnah (lebih utama berwudhu).

30. Setelah makan daging unta (dimasak dengan api ataupun tidak) wajib wudhu.

31. Setelah makan makanan selain daging unta, sunnah untuk berwudhu.

B. ETIKA MINUM:

1. Membaca do’a sebelum minum.

2. Dianjurkan bernafas ketika minum sebanyak tiga kali, (secara beraturan) agar terhindar dari penyakit dan melancarkan proses pencernaan.

3. Dilarang minum dengan cara sekaligus.

4. Jika setelah minum mau memberikan minuman tersebut kepada orang lain, maka berikanlah kepada orang yang berada di sebelah kanan (anak kecil atau dewasa, terhormat atau orang biasa).

5. Minuman (kalau lebih dari satu wadah) harus diberikan pertama kali kepada orang yang meminta minuman tersebut.

6. Jika tidak terdapat orang yang meminta minuman, maka yang pertama kali diberi minuman adalah orang yang paling tua usianya, selanjutnya diberikan kepada orang yang berada di sebelah kanan orang yang memberi minuman (baik anak kecil ataupun orang tua, orang terhormat ataupun rakyat biasa).

7. Jika tidak terdapat orang tua, maka mulailah membagikan minuman dari sebelah kanan orang yang membagikan.

8. Hendaknya tidak minum langsung dari mulut wadah (bejana/kendi) atau “ditohtor” untuk menghindari sesuatu yang akan membahayakan diri yang minum.

9. Boleh minum sambil berdiri jika terpaksa.

10. Boleh mengambil berkah dari bekas minuman atau makanan nabi.

11. Tidak boleh meniup-niup minuman.

12. Kalau terlalu panas atau ada sesuatu pada minuman, maka boleh meniupnya dengan cara meniup minuman kemudian menjauhkan bejana tersebut dari mulutnya, kemudian meniupnya kembali, kemudian menjauhkan bejana dari mulutnya.

13. Minum boleh sambil berdiri (berdasarkan hadits fi’li/perbuatan nabi), tapi lebih utama minum sambil duduk (berdasarkan hadits qauli/sabda nabi). Berbeda dengan makan, maka hukumnya tetap haram sambil berdiri.

14. Nabi pernah minum air zam zam sambil berdiri.

15. Jika seseorang masuk mesjid, lalu disodorkan minuman, maka boleh minum sambil berdiri, karena menyalahi sabda rasul : “jika salah seorang dari kalian masuk mesjid, maka janganlah duduk sebelum shalat dua raka’at”.

16. Orang yang memberikan minuman (sohibul bait), jika bermaksud untuk minum, dianjurkan untuk minum paling akhir, dengan alasan:

* Segi mementingkan orang lain daripada diri sendiri.

* Jika ada kekurangan, ditanggung oleh yang membagikan minuman (sohibul bait).

17. Hal ini untuk melaksanakan perintah Rasulullah SAW dan mencontoh adab Rasulullah SAW.

18. Mengenai ikut sertanya sohibul bait dalam jamuan terhadap tamu, dikembalikan kepada adat kebiasaan masing-masing.

19. Semua wadah atau benda di alam ini adalah halal untuk dijadikan tempat minum, tempat makan, tempat bersuci atau tempat yang lainnya, kecuali terbuat dari emas dan perak.

20. Benda apapun boleh dipergunakan, kecuali ada dalil yang melarangnya.

21. Haram laki-laki memakai pakaian terbuat dari sutra.

22. Perempuan boleh memakai pakaian terbuat dari sutra hanya untuk berhias di depan suaminya.

23. Emas, perak dan sutra adalah perhiasan orang beriman nanti di surga.

 

RINGKASAN KITAB SAFAR - Syarah Riyadhu ash-Sholihin

Di kirim oleh Ust Jajang Solih via group Fb-ppi73

clip_image002

Jama’ah Kajian Kitab Kuning Pesantren Persis 73 Garogol

RINGKASAN KITAB SAFAR - Syarah Riyadhu ash-Sholihin Muhammad Bin Shalih Al-‘Utsaimin

1. DIANJURKAN MEMULAI PERJALANAN UNTUK SAFAR PADA HARI KAMIS;

عن كعب بن مالك - رضي الله عنه - : أنَّ النبيَّ - صلى الله عليه وسلم - خَرَجَ في غَزْوَةِ تَبُوكَ يَوْمَ الخَمِيس ، وَكَانَ يُحِبُّ أنْ يَخْرُجَ يَوْمَ الْخَميسِ . متفقٌ عَلَيْهِ .

وفي رواية في الصحيحين: لقَلَّمَا كَانَ رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم - يَخْرُجُ إِلاَّ في يَوْمِ الخَمِيسِ.

Dari Ka’ab bin Malik -semoga Allah meridhainya-: bahwasanya Nabi SAW berangkat pada waktu Perang Tabuk pada hari Kamis, dan keadaan Nabi SAW menyukai bepergian pada hari Kamis.” (Bukhari Muslim)

Dan pada satu riwayat dalam ash-Shahihain: “Jarang sekali Rasulullah SAW bepergian kecuali pada hari kamis”.

2. DAN DIANJURKAN BERANGKAT PADA PAGI HARI;

وعن صخر بن وَداعَةَ الغامِدِيِّ الصحابيِّ - رضي الله عنه-: أنَّ رسولَ الله - صلى الله عليه وسلم -، قَالَ : (( اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِي في بُكُورِهَا (3) وَكَانَ إِذَا بَعَثَ سَرِيَّةً أَوْ جَيْشَاً بَعَثَهُمْ مِنْ أوَّلِ النَّهَارِ . وَكَانَ صَخْرٌ تَاجِراً ، وَكَانَ يَبْعَثُ تِجَارَتَهُ أوَّلَ النَّهَار ، فَأَثْرَى وَكَثُرَ مَالُهُ . رواه أَبُو داود والترمذي ، وقال : (( حديث حسن )) .

Dari Shokhr bin Wada’ah al-Ghamidi ash-Shahabiyi, semoga Allah meridhainya, bahwasanya Rasulullah SAW berdo’a: “Ya Allah, berilah berkah untuk umatku di waktu pagi (3x), dan keadaan beliau jika mengutus tentara atau pasukan perang, beliau mengirimnya di awal hari (pagi). Sedangkan Shokhr adalah seorang pedagang, dia mengirim dagangannya itu pada awal hari (pagi), maka dia menjadi kaya dan bertambah banyak hartanya. (HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi, dan dia berkata: (hadits ini adalah hadits hasan)

3. DIANJURKAN DISERTAI TEMAN KETIKA BEPERGIAN;

عن ابن عمرَ رضي اللهُ عنهما ، قَالَ : قَالَ رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم - : (( لَوْ أنَّ النَّاسَ يَعْلَمُونَ مِنَ الوحدَةِ مَا أعْلَمُ، مَا سَارَ رَاكبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ ! )) رواه البخاري.

Dari Abdullah bin Umar -semoga Allah meridhai keduanya-, dia berkata; telah bersabda Rasulullah SAW: “Andaikan orang-orang mengetahui bahayanya orang yang berjalan sendirian sebagaimana yang aku ketahui, maka tidak akan ada orang berkendaraan yang berani berjalan sendirian pada waktu malam.” (HR. Bukhari)

4. DIANJURKAN MENGANGKAT SEORANG PEMIMPIN YANG AKAN DITAATI KETIKA BEPERGIAN LEBIH DARI SEORANG;

وعن أَبي سعيد وأبي هُريرة رضي اللهُ تَعَالَى عنهما، قالا : قَالَ رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم - : (( إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ في سَفَرٍ فَليُؤَمِّرُوا أحَدَهُمْ )) حديث حسن ، رواه أَبُو داود بإسنادٍ حسن .

Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah -semoga Allah meridhai keduanya-, mereka berkata: telah bersabda Rasulullah SAW: “apabila ada tiga orang yang keluar untuk satu perjalanan, maka hendaklah mereka mengangkat pemimpin (rombongan) salah seorang diantara mereka”. (Hadits Hasan. H.R. Abu Daud dengan sanad Hasan)

5. DIANJURKAN MERAWAT DAN BERSIKAP BIJAKSANA (BERBUAT IHSAN) ATAS KENDARAAN YANG DITUMPANGI KETIKA MELAKUKAN SAFAR;

عن أَبي هُريرةَ - رضي الله عنه -، قَالَ : قَالَ رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم - : (( إِذَا سَافَرْتُمْ فِي الخِصْبِ، فَأعْطُوا الإبلَ حَظَّهَا مِنَ الأَرْضِ، وَإِذَا سَافَرْتُمْ في الجدْبِ، فَأسْرِعُوا عَلَيْهَا السَّيْرَ، وَبَادِرُوا بِهَا نِقْيَهَا، وَإِذَا عَرَّسْتُمْ، فَاجْتَنِبُوا الطَّرِيقَ ؛ فَإنَّهَا طُرُقُ الدَّوَابِّ، وَمَأوَى الهَوَامِّ بِاللَّيْلِ )) رواه مسلم .

Dari Abu Hurairah -semoga Allah meridhainya-, dia berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: “Apabila kalian bepergian (melewati) daerah yang subur, maka penuhilah hak unta (kendaraan) dari bumi. Dan jika kalian bepergian (melewati) daerah yang gersang maka percepatlah laju jalannya unta (kendaraan), dan percepatlah sumsumnya. Dan jika kalian berhenti sebentar untuk beristirahat, maka hindarilah berhenti di (tengah) jalan, sebab itu merupakan tempat berjalannya binatang ternak, dan tempatnya singa di waktu malam”. (H.R. Muslim)

6. JIKA BERNIAT TIDUR KETIKA BERISTIRAHAT PADA WAKTU AWAL MALAM (JAUH DARI WAKTU SHALAT SHUBUH), MAKA DIANJURKAN TIDUR BERBARING KE SEBELAH KANANNYA. TETAPI JIKA HENDAK TIDUR PADA WAKTU DEKAT MENJELANG SHUBUH, MAKA DIANJURKAN TIDUR DENGAN CARA MEMBENTANGKAN SIKUT DAN MENEMPATKAN KEPALA DI ATAS TELAPAK TANGANNYA (AGAR SHALAT SHUBUH TIDAK KETINGGALAN);

وعن أَبي قتادة - رضي الله عنه -، قَالَ : كَانَ رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم - إِذَا كَانَ فِي سَفَرٍ، فَعَرَّسَ بِلَيْلٍ اضْطَجَعَ عَلَى يَمِينهِ ، وَإِذَا عَرَّسَ قُبَيلَ الصُّبْحِ نَصَبَ ذِرَاعَهُ ، وَوَضَعَ رَأسَهُ عَلَى كَفِّهِ. رواه مسلم

Dari Abu Qatadah -semoga Allah meridhainya-, dia berkata: “Adalah Rasulullah SAW apabila sedang berada dalam satu perjalanan, kemudian berhenti sebentar untuk beristirahat di waktu malam, beliau berbaring menghadap ke sebelah kanan beliau, dan apabila beliau berhenti sebentar untuk istirahat pada saat waktu mendekati shubuh, beliau membentangkan tangannya (dari siku sampai ujung jari), dan meletakkan kepala di atas telapak tangannya. (H.R. Muslim)

7. KETIKA BERISTIRAHAT DAN TIDUR, DIANJURKAN MEMILIH TEMPAT YANG AMAN

8. KETIKA BERISTIRAHAT DI PERJALANAN, DILARANG TERPISAH DARI KELOMPOK;

وعن أَبي ثَعْلَبَةَ الخُشَنِيِّ -رضي الله عنه-، قَالَ: كَانَ النَّاسُ إِذَا نَزَلُوا مَنْزِلاً تَفَرَّقُوا في الشِّعَابِ وَالأوْدِيَةِ. فَقَالَ رسولُ الله-صلى الله عليه وسلم-: (إنَّ تَفَرُّقكُمْ فِي هذِهِ الشِّعَابِ وَالأوْدِيَةِ إنَّمَا ذلِكُمْ مِنَ الشَّيْطَانِ !) فَلَمْ يَنْزِلُوا بَعْدَ ذَلِكَ مَنْزِلاً إِلاَّ انْضَمَّ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ. رواه أَبُو داود بإسناد حسن .

Dari Abu Tsa’labah al-Khusyani -semoga Allah meridhainya-, dia berkata; “Keadaan orang-orang apabila singgah di suatu tempat, mereka terpisah-pisah di perbukitan dan lembah-lembah. Maka Rasulullah SAW bersabda: “sungguh tercerai-berainya kalian sesungguh-nya itulah perbuatan dari syetan! Maka setelah (kejadian) itu, mereka tidak berhenti di suatu tempat kecuali sebagian dari mereka berkumpul dengan sebagian yang lainnya. (H.R. Abu Daud dengan derajat hasan)

9. DIANJURKAN SALING TOLONG MENOLONG DENGAN SESAMA PADA SAAT BEPERGIAN;

وعن أَبي سعيد الخدري - رضي الله عنه - ، قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ في سَفَرٍ إذْ جَاءَ رَجُلٌ عَلَى رَاحِلَةٍ لَهُ ، فَجَعَلَ يَصْرِفُ بَصَرَهُ يَمِيناً وَشِمَالاً ، فَقَالَ رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم- : (مَنْ كَانَ مَعَهُ فَضْلُ ظَهْرٍ فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنْ لاَ ظَهْرَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَ لَهُ فَضْلُ زَادٍ فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنْ لاَ زَادَ لَهُ) ، فَذَكَرَ مِنْ أصْنَافِ المَالِ مَا ذَكَرَهُ ، حَتَّى رَأيْنَا ، أنَّهُ لاَ حَقَّ لأَحَدٍ مِنَّا فِي فَضْلٍ . رواه مسلم.

Dari Abu Sa’id al-Khudzriy -semoga Allah meridhainya-, dia berkata: “Ketika kami berada di suatu perjalanan, tiba-tiba datang seorang laki-laki di atas kendaraan miliknya, kemudian laki-laki tersebut mulai mengarahkan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang mempunyai kelebihan harta yang banyak, maka berikanlah yang lebih itu kepada orang yang tidak mempunyai harta. Dan barangsiapa yang mempunyai perbekalan yang lebih, maka berikanlah yang lebih itu kepada orang yang tidak memiliki bekal. Kemudian beliau menyebutkan pembagian harta yang telah beliau sebutkan sehingga kami berpendapat bahwa tidak ada hak sama sekali bagi seseorang dari kami dalam hal yang lebih (dari keperluan). (H. R. Muslim)

10. DIANJURKAN BERDO’A KETIKA SAFAR

وعن أَبي هريرة - رضي الله عنه - ، قَالَ : قَالَ رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم - : (( ثلاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَات لاَ شَكَّ فِيهِنَّ : دَعْوَةُ المَظْلُومِ ، وَدَعْوَةُ المُسَافِرِ ، وَدَعْوَةُ الوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ )) رواه أَبُو داود والترمذي ، وقال : ( حديث حسن ). وليس في رواية أَبي داود : ( عَلَى وَلَدِهِ ).

Dari Abu Hurairah -semoga Allah meridhainya-, berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: “Ada tiga macam do’a yang akan dikabulkan (oleh Allah), tidak diragukan lagi tentang ketiganya; “(yakni) Do’a orang yang terdzalimi, Do’a orang yang bepergian, dan Do’a orang tua terhadap anaknya”. (H.R. Abu Daud dan at-Turmudzi, dia mengatakan: Hadits yang Hasan. Sedangkan dalam riwayat Abu Daud tidak ada lafadz (‘ala waladihi: terhadap anaknya)

11. DO’A KETIKA NAIK KENDARAAN

اَللهُ اَكْبَرُ (3×)

سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ . اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِى سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى . اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ . اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ . اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ وَالأَهْلِ والْوَلَدِ.

“Maha Suci Dzat yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami, sedang sebelumnya kami tidak mampu. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hari Kiamat). Ya Allah! Sesungguh-nya kami memohon kebaikan dan taqwa dalam bepergian ini, kami mohon perbuatan yang meridhakan-Mu. Ya Allah! Permudahlah perjalanan kami ini, dan dekatkan jaraknya bagi kami. Ya Allah! Engkau-lah teman dalam bepergian dan yang mengurusi keluarga(ku). Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan perubahan yang jelek dalam harta dan keluarga dan anak-anak.”

(Berdasarkan H.R. Muslim dari Ibnu Umar r.a)

12. KETIKA PULANG DARI SAFAR DAN DI SAAT MELIHAT KAMPUNG HALAMAN DIANJURKAN UNTUK BERDO’A;

آيِبُونَ ، تَائِبُونَ ، عَابِدُونَ ، لِرَبِّنَا حَامِدُونَ

“Kami kembali dengan bertaubat, tetap beribadah dan selalu memuji kepada Tuhan kami”

(Berdasarkan H.R. Muslim dari Ibnu Umar r.a)

Do’a ini dibaca terus menerus hingga tiba di kampung halaman

13. DIANJURKAN TAKBIR SEBANYAK 1X, 2X, ATAU 3X KETIKA MELEWATI JALAN YANG MENANJAK ATAU KETIKA BERADA DI TEMPAT YANG TINGGI, SERTA DIANJURKAN MEMBACA TASBIH SEBANYAK 1X, 2X, ATAU 3X KETIKA MELEWATI JALAN YANG MENURUN ATAU KETIKA BERADA DI TEMPAT YANG RENDAH;

وعن ابن عمرَ رضي اللهُ عنهما ، قَالَ : كَانَ النَّبيُّ - صلى الله عليه وسلم - وجيُوشُهُ إِذَا عَلَوا الثَّنَايَا كَبَّرُوا ، وَإِذَا هَبَطُوا سَبَّحُوا . رواه أَبُو داود بإسناد صحيح.

Dari Ibnu Umar -semoga Allah meridhai keduanya-, dia berkata: “Nabi SAW dan pasukannya apabila menaiki jalan-jalan yang mendaki mereka bertakbir dan apabila mereka menurun mereka bertasbih”. (H.R. Abu Daud dengan sanad yang shahih)

14. KETIKA KHAWATIR DAN MERASA TAKUT TERHADAP SUATU KAUM, MAKA DIANJURKAN BERDO’A;

اللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِى نُحُورِهِمْ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شُرُورِهِمْ

“Ya Allah! Sesungguhnya kami menjadikan Engkau di leher mereka (agar kekuatan mereka tidak berdaya dalam berhadapan dengan kami), dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka.”

(Berdasarkan H.R. at-Turmudzi dari Abu Musa al-Asy’ari)

15. KETIKA SINGGAH DI SUATU TEMPAT, MAKA DIANJURKAN BERDO’A DENGAN DO’A;

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

"Aku berlindung dengan segala firman-firman Allah yang lengkap sempurna dari gangguan (kejahatan) semua makhluk-Nya"

(Berdasarkan H.R. Muslim dari Khaulah binti Hakim)

16. DO’A KETIKA MENGHADAPI MALAM DALAM SUATU PERJALANAN

يَا أرْضُ، رَبِّي وَرَبُّكِ اللهُ ، أعُوذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّكِ وَشَرِّ مَا فِيكِ ، وَشَرِّ مَا خُلِقَ فِيكِ ، وَشَرِّ مَا يَدِبُّ عَلَيْكِ ، وَأعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ أسَدٍ وَأسْوَدٍ ، وَمِنَ الحَيَّةِ وَالعَقْرَبِ ، وَمِنْ سَاكِنِ البَلَدِ ، وَمِنْ وَالِدٍ وَمَا وَلَدَ

"Hai bumi, Robb-ku dan Robb-mu adalah Allah. Aku berlindung kepada Allah dari gangguanmu dan gangguan yang ada padamu, dan dari gangguan makhluk yang ada padamu, dan dari gangguan yang hidup di mukamu. Aku berlindung kepada Allah dari gangguan singa, srigala, ular, kalajengking dan dari penghuni negeri serta dari bapak (iblis) dan anak (syetan).

(Berdasarkan H.R. Abu Daud dari Ibnu Umar)

17. DIANJURKAN UNTUK SEGERA PULANG KEMBALI KEPADA KELUARGA JIKA MAKSUD DAN KEPERLUAN SUDAH SELESAI;

عن أَبي هريرة - رضي الله عنه - : أنَّ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ : (( السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ العَذَابِ، يَمْنَعُ أحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرابَهُ وَنَوْمَهُ، فَإذَا قَضَى أحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ مِنْ سَفَرِهِ ، فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أهْلِهِ )) متفقٌ عَلَيْهِ.

Dari Abu Hurairah -semoga Allah meridhainya- Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Bepergian itu adalah sebagian dari siksa, seseorang terhalang dari makan, minum dan tidurnya. Maka jika salah seorang dari kalian telah selesai menunaikan maskudnya, hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya.” (H.R. Bukhari Muslim)

18. DIANJURKAN PULANG DARI SAFAR PADA WAKTU SIANG HARI, DAN MAKRUH HUKUMNYA PULANG DARI SAFAR PADA WAKTU MALAM HARI, KECUALI ADA HALANGAN ATAU TELAH MEMBERITAHUKAN TERLEBIH DAHULU KEPADA KELUARGANYA;

وعن أنسٍ - رضي الله عنه - ، قَالَ : كَانَ رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم - لا يَطْرُقُ أهْلَهُ لَيْلاً ، وَكَانَ يَأتِيهمْ غُدْوَةً أَوْ عَشِيَّةً . متفقٌ عَلَيْهِ

Dari Anas -semoga Allah meridhainya-, berkata: “Adalah Rasulullah SAW tidak biasa mengetuk pintu keluarganya pada waktu malam, dan beliau biasa mendatangi mereka pada waktu pagi atau sore hari”. (H.R. Bukhari Muslim)

19. DIANJURKAN UNTUK MENJADIKAN MESJID YANG ADA DI KAMPUNG HALAMAN SEBAGAI TEMPAT YANG PERTAMA KALI DISINGGAHI, KEMUDIAN MELAKSANAKAN SHALAT DUA RAKA’AT DI MESJID ITU;

عن كعب بن مالِك - رضي الله عنه - : أنَّ رسولَ الله - صلى الله عليه وسلم - كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ ، بَدَأ بِالْمَسْجِدِ فَرَكَعَ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ . متفقٌ عَلَيْهِ.

Dari Ka’ab bin Malik -semoga Allah meridhainya-: “Sesungguhnya Rasulullah SAW jika tiba dari bepergian, beliau mendahulukan masuk ke mesjid dan shalat dua raka’at di dalam mesjid itu”. (H.R. Bukhari Muslim)

20. HARAM HUKUMNYA BAGI SEORANG PEREMPUAN BEPERGIAN TANPA DITEMANI MAHRAMNYA;

عن أَبي هريرة - رضي الله عنه -، قَالَ: قَالَ رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم -: (( لاَ يَحِلُّ لامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَومِ الآخِرِ تُسَافِرُ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ عَلَيْهَا )) متفقٌ عَلَيْهِ.

Dari Abu Hurairah -semoga Allah meridhainya- berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir bepergian dalam perjalanan sehari semalam kecuali bersama mahramnya”. (H.R. Bukhari Muslim)

 

Bolehkah Mengumumkan Berita Kematian Seseorang Di Facebook ?

December 1, 2013

SMS ti Kang Risman ping 01-12-2013 tabuh 19:19 WIB. eusina kieu.
” Tad bpak … ciloa meninggal nembe abdi kengeng kbr ti siuum, di infokeun dina fb pesantren “

Balesana ti kuring
“ innalillahi wa innailaihi rojiun. sok atuh umum keun we ku akang “

Risman
” abdi teu tiasa muka fb “

Kuring
” ok lah kalau begitu “

***

Jam 10 malem buka laptop, niatan untuk buat TS pemberitahuan meninggalnya ayah teman, namun belum sempat selesai menulis istri ane menegurnya karena menurutnya ada hadits yang melarang untuk memberitakan kematian seseorang.

Sempat tegang beberapa menit, karena saya baru mendengar dan tetap ngotot ingin pembuktian dalil yang melarangnya. Istri ane diam dan sedikit marah dengan bahasa tubuhnya,

***

Penasaran dan ane nanya sama mbah google. hasilnya memang seperti yang istri ane bilang “ bahwa memberitakan kematian seseorang dilarang oleh Rasululloh berdasarkan hadits yang akan saya kutip di bawah”

Namun sikap ane terhadap hadits tersebut lebih menunjukan kepada sikap longgar, yakni dengan catatan tidak terjebak dalam Na’yu seperti yang di lakukan kebiasan orang jahiliyyah di masa Nabi.

***

Ini yang dari Sunan Tirmidzi

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدٍ الرَّازِىُّ حَدَّثَنَا حَكَّامُ بْنُ سَلْمٍ وَهَارُونُ بْنُ الْمُغِيرَةِ عَنْ عَنْبَسَةَ عَنْ أَبِى حَمْزَةَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِيَّاكُمْ وَالنَّعْىَ فَإِنَّ النَّعْىَ مِنْ عَمَلِ الْجَاهِلِيَّةِ ». قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَالنَّعْىُ أَذَانٌ بِالْمَيِّتِ. وَفِى الْبَابِ عَنْ حُذَيْفَةَ

…Hindarilah na’yu, karena sesungguhnya na’yu termasuk perbuatan jahiliyyah. (Na’yu adalah berita duka (pemberitaan kematian)….

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَخْزُومِىُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْوَلِيدِ الْعَدَنِىُّ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِىِّ عَنْ أَبِى حَمْزَةَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ نَحْوَهُ وَلَمْ يَرْفَعْهُ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ وَالنَّعْىُ أَذَانٌ بِالْمَيِّتِ.

قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا أَصَحُّ مِنْ حَدِيثِ عَنْبَسَةَ عَنْ أَبِى حَمْزَةَ. وَأَبُو حَمْزَةَ هُوَ مَيْمُونٌ الأَعْوَرُ وَلَيْسَ هُوَ بِالْقَوِىِّ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ. قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. وَقَدْ كَرِهَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ النَّعْىَ وَالنَّعْىُ عِنْدَهُمْ أَنْ يُنَادَى فِى النَّاسِ أَنَّ فُلاَنًا مَاتَ لِيَشْهَدُوا جَنَازَتَهُ. وَقَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ لاَ بَأْسَ أَنْ يُعْلِمَ أَهْلَ قَرَابَتِهِ وَإِخْوَانَهُ. وَرُوِىَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ أَنَّهُ قَالَ لاَ بَأْسَ بِأَنْ يُعْلِمَ الرَّجُلُ قَرَابَتَهُ

…..sebagian ahli ilmu tidak menyukai na’yu. Dan na’yu menurut pendapat mereka adalah menyerukan (kabar) kepada orang banyak bahwa si fulan sudah meninggal supaya mereka menyaksikan jenazahnya (melayat). Sebagian ahli ilmu mengatakan tidak apa-apa kalau memberitahukan kepada kerabat dan teman-temannya…..

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْقُدُّوسِ بْنُ بَكْرِ بْنِ خُنَيْسٍ حَدَّثَنَا حَبِيبُ بْنُ سُلَيْمٍ الْعَبْسِىُّ عَنْ بِلاَلِ بْنِ يَحْيَى الْعَبْسِىِّ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ قَالَ إِذَا مِتُّ فَلاَ تُؤْذِنُوا بِى أَحَدًا إِنِّى أَخَافُ أَنْ يَكُونَ نَعْيًا فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنْهَى عَنِ النَّعْىِ. هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ

…Hudzaifah bin al Yaman pernah berkata, “ Kalau aku mati maka janganlah kalian kabarkan kepada siapapun. Aku takut ini termasuk na’yu. Maka aku pernah mendengar Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang na’yu”……

Ini dari Musnad Ahmad

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا حَبِيبُ بْنُ سُلَيْمٍ الْعَبْسِىُّ عَنْ بِلاَلٍ الْعَبْسِىِّ عَنْ حُذَيْفَةَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا مَاتَ لَهُ مَيِّتٌ قَالَ لاَ تُؤْذِنُوا بِهِ أَحَداً إِنِّى أَخَافُ أَنْ يَكُونَ نَعْياً إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنْهَى عَنِ النَّعْىِ

…Dari Hudzaifah bahwa apabila ada salah seorang yang mati, dia berkata, “Janganlah mengabarkan kematiannya kepada orang lain, aku takut hal itu termasuk na’yu. Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya,”…

Ini dari Shohih Bukhari

حدثنا عبد الله بن يوسف أخبرنا مالك عن ابن شهاب عن سعيد بن المسيب عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه و سلم نعى النجاشي في اليوم الذي مات فيه وخرج بهم إلى المصلى فصف بهم وكبر عليه أربع تكبيرات

…..bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kematian raja Najasyi pada hari kematiannya dan beliau keluar menuju musholla dan sholat (ghaib) mengimami orang-orang dan beliau sholat empat kali takbir…

حدثنا سليمان بن حرب حدثنا حماد بن زيد عن أيوب عن حميد بن هلال عن أنس بن مالك رضي الله عنه: أن النبي صلى الله عليه و سلم نعى جعفرا وزيدا قبل أن يجيء خبرهم وعيناه تذرفان

…Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kematian Ja’far an Zaid sebelum datang kabar mereka (dari para sahabat) dan air mata beliau menetes…

Di kitab Nailul Authar, Asy-Syaukani berkata, “Kesimpulannya, mengumumkan berita kematian untuk memandikan, mengafani, menshalatkan, mengusung dan mengebumikan jenazahnya dikhususkan dari keumuman larangan tersebut. Sebab mengumumkan berita kematian kepada pihak yang mengurusi urusan jenazah ini merupakan perkara yang disepakati kebolehannya sejak zaman para Nabi sampai sekarang. Adapun jika lebih dari itu, maka ia termasuk dalam keumuman larangan tersebut.”

sumber kutipan dari di sini

***

Jika ada bantahan yang logis dan berdasarkan dalil yang qot’i ane sangat bergembira sekali.

261967_10151088145316840_643107416_n

TRANSFORMASI SOSIAL DAN GERAKAN ISLAM DI INDONESIA

May 22, 2013

hukum menuju transformasi sosial
Dewasa ini kebutuhan akan adanya suatu perspektif teoretis mengenai transformasi sosial Islam merupakan suatu kebutuhan yang mendesak. Hal ini karena tanpa adanya teori semacam itu kita bukan saja tidak akan dapat memahami kenyataan- kenyataan sosial yang ada dari pandangan Islam, tetapi juga akan membuat kita terombang- ambing dalam arus perubahan sosial yang besar. Salah satu urgensi mengapa dewasa ini kita memerlukan sebuah perumusan teori sosial Islam adalah agar kita mampu mengaktualisasikan iman kita pada realitas obyektif, agar kita mampu memanifestasikan amal kita secara efektif pada kondisi- kondisi dan kenyataan- kenyataan sosial yang baru. Satu hal yang mutlak diperlukan untuk usaha perumusan teori sosial Islam adalah bahwa disamping kita harus merujuk kepada konsep- konsep normatif Islam, kita harus memperhatikan pula kenyataan- kenyataan obyektif dan empiris yang ada dalam masyarakat.

PENDAHULUAN
Kata transformasi berasal dari kata dalam bahasa Inggris transform, yang berarti mengendalikan suatu bentuk dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Jadi transformasi sosial budaya berarti membicarakan tentang proses perubahan struktur, sistem sosial, dan budaya. Transformasi di suatu pihak dapat mengandung arti proses
perubahan atau pembaharuan struktur sosial, sedang di pihak lain mengandung makna proses perubahan nilai. Kita hidup di dunia ini terus berubah. Masyarakat dan kebudayaannya terus- menerus merngalami perubahan. Kebiasaannya, aturan- aturan kesusilaannya, hukumnya, lembaga- lembaganya terus berubah. Dan semua perubahan ini mengakibatkan perubahan yang lain lagi secara timbal balik dan
berbelit- belit. ( Mayor Polak, 1985, h. 385 )
Di dalam wacana keislaman, salah satu kepentingan terbesar Islam sebagai sebuah ideologi sosial adalah bagaimana mengubah masyarakat sesuai dengan cita- cita transformasi sosial. Semua ideologi atau filsafat sosial menghadapi suatu pertanyaan pokok, yakni bagaimana mengubah masyarakat dari kondisi yang sekarang menuju kepada keadaan yang lebih dekat dengan tatanan idealnya. Elaborasi terhadap pertanyaan pokok semacam itu biasanya lalu menghasilkan teori- teori sosial yang
berfungsi untuk menjelaskan kondisi masyarakat yang empiris pada masa kini, dan sekaligus memberikan insight mengenai perubahan dan transformasinya. Karena teori- teori yang diderivasi dari ideologi- ideologi sosial sangat berkepentingan terhadap terjadinya transformasi sosial, maka dapat dikatakan bahwa hampir semua teori sosial tersebut bersifat transformatif.
Ciri transformatif dari teori- teori sosial misalnya dapat ditemukan dalam teori Marx yang tampak sekali berpretensi bukan hanya untuk menafsirkan realitas empiris tapi sekaligus juga untuk mengubahnya. Mungkin kita dapat mengatakan bahwa bahkan hampir semua teori sosial dewasa ini, kecuali yang hanya berkepentingan untuk eksplanasieksplanasi antropologis, semuanya bersifat transformatif. Hal ini karena
teori- teori tersebut dikehendaki atau tidak senantiasa mengidap keinginan untuk terjadinya perubahan, yaitu dalam rangka paradigmanya sendiri. ( Kuntowijoyo, 1994, h. 337 )
Sebagai sebuah ideologi sosial, Islam juga menderivasi teori- teori sosialnya sesuai dengan paradigmanya untuk transformasi sosial menuju tatanan masyarakat yang sesuai dengan cita- citanya. Oleh karena itu menjadi sangat jelas bahwa Islam sangat berkepentingan pada realitas sosial, bukan hanya untuk dipahami, tapi juga diubah dan dikendalikan. Bahwa Islam memiliki dinamika-dalam untuk timbulnya desakan pada adanya transformasi sosial secara terus menerus, ternyata berakar juga pada misi ideologisnya, yakni cita- cita untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahiy munkar dalam masyarakat di dalam kerangka keimanan kepada Tuhan. Sementara amar ma’ruf berarti humanisasi dan emansipasi, nahiy munkar merupakan upaya untuk liberasi. Dan karena kedua tugas itu berada dalam kerangka keimanan, maka humanisasi dan liberasi merupakan dua sisi yang tak dapat dipisahkan dari transendensi. (Kuntowijoyo, 1994, h. 338 )
Di setiap masyarakat, dengan struktur dan sistem apapun dan dalam tahap historis yang manapun, cita- cita untuk humanisasi, emansipasi, liberasi dan transendensi akan selalu memotivasikan gerakan transformasi Islam. Cita- cita ini pulalah yang akan menjadi tema transformasi Islam, suatu tema yang dipenuhi dengan pandangan profetik tertentu mengenai perubahan.
bersambung
sumber : oleh A. Zaeny - Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Intan Bandar Lampung.