Showing posts with label Tokoh Persis. Show all posts
Showing posts with label Tokoh Persis. Show all posts

Ustadz Mamat: Sang Mujahid Itu Telah Tiada

January 22, 2020

Oleh : Tantan Hermansah


Saya dan mungkin sebagian besar jamaah dan santrinya menyebutnya Ustadz Mamat saja. Nama panjang beliau: Mamat Abdurahman. Nama ini hanya dikenalkan ketika acara formal atau pada lembaran surat dan keadministrasian saja. Selebihnya, informal saja. Bahasa anak sekarang mah: santuy. Bahkan, tidak ada embel-embel Kiai Hajji, walau beliau itu pimpinan pesantren, tokoh agama, dan sering bolak balik menjadi pembimbing ibadah hajji dan umrah.

Sudah lama dikenal di kalangan jamaah Persatuan Islam (Persis), bahwa adab antara guru murid sangat biasa saja. Tidak ada sun tangan jika bersalaman. Kalaupun lewat ke hadapan para asatidz itu, ya… menunduk seperlunya saja.
Dalam komunitas jamaah Persis, nyaris tidak batas relasional antara guru, murid, jamaah, simpatisan, atau siapapun.


Kebersahajaan ini yang kemudian merembet pada perilaku sehari-hari. Pernah, suatu waktu, Ustadz Mamat pergi mau memberikan ceramah ke tempat lain. Beliau menyopiri mobilnya sendiri. Ditemani Ujang, teman sekelas saya di pesantren. Mobil beliau adalah sebuah carry losbak. Dan seperti kami ketahui bersama, di Persis, dandanan ustadz juga tidak terlalu diformalkan. Jadi tidak kelihatan seperti guru agama.

AL-GHAZALI DIMATA M. NATSIR

November 29, 2019


Oleh: Dr. Adian Husaini

Mohammad Natsir (1908-1993) dikenal sebagai pejuang Islam Indonesia yang pada 2008 mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Nasional. Natsir juga seorang pemikir dan pelopor pendidikan Islam. Tulisan-tulisannya yang dihimpun dalam buku Capita Selecta menunjukkan ketinggian keilmuan M. Natsir. Meskipun hanya mengenyam pendidikan formal setingkat AMS (Algemene Middelbare School), setingkat SMA sekarang, tetapi Natsir memiliki kacintaan yang sangat tinggi dalam mencari ilmu.

Tumbuh dalam asuhan pendidikan keagamaan oleh A. Hassan, seorang tokoh modernis, Natsir mampu mengembangkan pemikirannya jauh melampui lingkungan pendidikan formalnya. Pada sekitar tahun 1930-an, dalam usia sekitar tiga puluhan, Natsir telah aktif menulis tentang berbagai persoalan keilmuan dan terlibat dalam perdebatan ilmiah dengan berbagai kalangan. Melalui tulisan-tulisannya, ketika itu, tampak Natsir sudah membaca berbagai literatur tentang aqidah, sejarah, ilmu kalam, tasawuf, filsafat, syariah, perbandingan agama, dan sebagainya. Hampir dalam setiap tulisannya, Natsir mampu meramu dengan baik, sumber-sumber dari kalangan Muslim maupun karya-karya orientalis Barat. Ambillah satu contoh sebuah artikel berjudul ”Muhammad al-Ghazali (450-505 H, 1058-1111)”, yang dimuat di majalah Pedoman Masyarakat, April 1937.

Persis itu Organisasi Politik bukan Organisasi Fiqih ?

June 19, 2015

Persis itu mula-mula adalah organisasi yang berdiri di tengah penjajahan tahun 1923 yang sangat aktif dalam politik. Tapi pada kelanjutannya Persis itu menjadi lembaga kefikihan saja yang dibicarakan.Demikian dikatakan Sejarawan Muslim, Ahmad Mansur Suryanegara

Beliau menilai, gerakan Persis terjebak pada lingkaran fikih ibadah, yang menurutnya terlalu kecil untuk digarap oleh ormas sebesar Persis.

“Persis sekarang ini tidak seperti semula yang sebenarnya sangat aktif dalam perpolitikan. Kalau dikatakan anti politik ya tidak, hanya saja kurang serius pada pemikiran politik,” tambahnya.

Dikatakan Suryanegara, A. Hassan adalah tokoh Persis yang berpengaruh bukan hanya dalam soal fikih, tapi juga dalam politik. Dirinya mencontohkan keberhasilan A. Hassan meng-Islamkan sejumlah pejabat Belanda waktu itu. Masjid Cipaganti merupakan bukti keberhasilan A. Hassan bukan dalam soal fikih.

“Itu Masjid Cipaganti dibangun oleh Wolff Schoemaker yang masuk Islam karena A. Hassan. Di Bandung ini tidak ada Masjid dibangun oleh penjajah, kecuali oleh Schoemaker yang sudah masuk Islam,” ungkap Suryanegara.

“Sekarang ini level kepemimpinan Persis dalam politik tidak ada kearah sepert itu. Pada kelanjutannya pemimpin Persis saat ini tidak sampai berada di atas. Jadi cenderung tertinggal sekarang ini,” katanya.

Suryanegara berharap, Persis bisa kembali terjun dan serius menggeluti politik seperti pada masa awal-awal, dan tidak hanya berfokus pada urusan fikih ibadah seperti saat ini.

“Saya sangat mendukung dan mudah-mudahan berhasil jika Persis terjun kembali ke bidang politik. Karena politik yang dipraktikkan Persis adalah politik untuk kepentingan Islam,” pungkasnya.

sumber:persisalamin.com

SEJARAH A.HASSAN SANG MAESTRO GERAKAN PEMBAHARUAN ISLAM INDONESIA

December 24, 2013

SEJARAH A.HASSAN SANG MAESTRO GERAKAN PEMBAHARUAN ISLAM INDONESIA



Mari mulai kultwit dengan tema Profil A. Hassan (Guru Besar Persis). Sesuai janji admin sebelumnya...

1. Ahmad Hassan Sang Guru Besar Persis (Persatuan Islam). Sang Maestro Pemikiran Pembaharuan Islam di Indonesia.

2. Namanya Hassan Bin Ahmad atau Ahmad Hassan, Hassan Bandung, Hassan Bangil atau A. Hassan (sprt yg trcantum dlm ratusan buku yg dtulisnya)

3. A. Hassan lahir di Singapura tahun 1887 dari seorg ayah bernama Ahmad dan ibu Hajjah Muznah

4. Sang ayah A. Hassan, Ahmad adlh seorg pedagang, pengarang & wartawan terkenal di Singapura. Pimred surat kabar Nurul Islam yg trbit dsana

5. Ibu A.Hassan, Muznah berasal dr Palakat, Madras, India dan msh keturunan Mesir, tetpi lahir di Surabaya.

6. A.Hassan kecil dibesarkan di lingkungan perniagaan & kewartawanan, ayahnya berharap nanti dia bs mjd penulis hebat seperti dirinya.

7. A. Hassan usia 7 tahun, dia sudah mempelajari Al-Quran dan dasar-dasar pengetahuan agama. Dia menyelesaikannya dlm 2 tahun.

8. Selepas itu A.Hassan masuk sekolah Melayu selama 4 tahun dan mempelajari bahasa Arab, bahasa Melayu, bahasa Tamil dan bahasa Inggris.

9. A.Hassan tdk sempat menamatkan sekolah dasarnya di Singapura, dia mulai bekerja usia 12 tahun di sebuah kedai kepunyaan iparnya Sulaiman.

10. A.Hassan mempelajari ilmu nahwu dan sharaf pada Muhammad Thaib, seorang guru terkenal di Minto Road atau juga terkenal Kampung Rokoh.

11. Demi ilmu, A.Hassan menerima syarat dr gurunya: datang belajar pagi sebelum subuh dan tidak boleh naik kenderaan ketika datang mengaji.

12. Setelah beberapa lama belajar Nahwu-sharaf, A.Hassan memperdalam bhs Arab kpd Said Abdullah Al-Munawi Al-Manusili selama beberapa tahun.

13. A.Hassan jg mmprdalam agama dg Abdul Lathif (guru yg trkenal d Melaka & Singapura), Haji Hassan (Syekh dr Malabar) & Syekh Ibrahim India

14. Semua proses belajar seperti ini ditekuni oleh A. Hassan dengan penuh dedikasi hingga tahun 1910 ketika Hassan berusia 23 tahun.

15. Disela tekun menuntut ilmu agama, A.Hassan belajar bertenun, dan pertukangan kayu, sempat membantu ayahnya di percetakan.

16. A.Hassan smbil mnuntut ilmu jg kerja d kedai perniagaan permata, minyak wangi & bekerja di Jeddah Pilgrims office (pejabat urusan haji)

17. Stlh selesai belajar thn 1910, A.Hassan mngabdi sbg guru d madrasah utk or2 India d Arab Street, Baghdad Street dan Geylang di Singapura

18. Keinginan ayahnya untuk melihat A.Hassan menjadi penulis mulai menampakkan hasilnya. A.Hassan mulai menulis dalam usia masih muda.
   
19. Pada tahun 1912-1913, A.Hassan membantu UTUSAN MELAYU yang diterbitkan di Singapura pimpinan Inche Hamid dan Sa’dullah Khan.
  
20. A.Hassan muda senang menulis nasihat agama, anjurat berbuat baik. Ia menyoroti persoalan dalam bentuk syair & kritik masyarakat.
   
21. A.Hassan bergaul dengan para pendiri Persis pada tahun 1925, tepat saat usia Persis 2 tahun berdiri.
   
22. Bermula dari kepindahan A.Hassan dr Singapura ke Surabaya utk berdagang, namun gagal dan rugi. Lalu memutuskan belajar tenun ke Bandung
 
23. Di bandung A.Hassan bertemu dg H. Zamzam, Tamim, Asyari (tokoh2 Persis) dan mulai mengisi pengajian di halaqah2 Persis.
  
24. A.Hassan merasa mendapatkan tempat yag tepat untuk beraktualisasi di Persis, kemudian beliau dikukuhkan sbg guru di Persis.
   
25. A.Hassan semasa di Bandung jg mnjlain silaturahmi kpd tokoh2 nasional spt Agus Salim, Cokroaminoto, Am Sangaji dll. Beliau sangat supel.

26. d Bandung, A.Hassan selain aktif mengajar d Persis, jg memberi les privat kpd pelajar2 didikan barat, bertablig & tetap produktif mnulis

27. Yg paling mnyita perhatian publik Indonesia, adlh debat A.Hassan kontra Ahmadiyah tahun 1930-an.

28. A.Hassan sangat menentang Ahmadiyah, dan menyebutnya ajaran yg mnyeleweng dr ajaran Islam, terutama thd klaim kenabian Mirza Gulam Ahmad

29. A.Hassan mnybut Ahmadiyah menyelewengkan ajaran Islam scr fatal krn mngaku ada nabi lg stlh Nabi Muhammad & ada kitab lg stlh Al Quran.

30. Ini yang menarik, debat A.Hassan dengan Abubakar Ayyub (tokoh Ahmadiyah) tahun 1930-an, kemampuan A.Hassan sbg sang ahli debat pun diuji

31. A.Hassan mengemukakan sebuah hadits: "Di hari Rasulullah SAW meninggal, bumi berteriak, katanya: “Ya Allah, apakah badanku ini akan...

32. ...Engkau kosongkan daripada diinjak oleh kaki-kaki nabi sampai hari kiamat?” Maka Allah berfirman kepada bumi itu: “Aku akan jadikan...

33. ...di atas badanmu manusia yang hatinya seperti nabi-nabi...”

34. Abubakar Ayyub lalu menanyakan ttg riwayat hadits itu. A Hassan menjawab tidak tahu.

35. A Hassan kemudian berkata: “Apakah tuan suka hadits ini? Bila tuan suka silakan pakai, bila tidak silakan tolak”.

36. Abubakar Ayyub kemudian menolak hadits yg disampaikan A.Hassan itu, krn tdk jelas siapa perawinya, drmn diambilnya & dimuat di kitab apa

37. Pengikut Ahmadiyah yg hadir ktk itu bersorak bangga dg tokohnya yg akan menang debat dlm wkt singkat, krn A.Hassan tdk bs mnerangkan itu

38. Para penonton dari kalangan Ahmadiyah bersorak, dan Ayyub pun merasa dirinya menang. Namun kemudian A Hassan membuat kejutan...

39. Ia mengatakan bahwa hadits itu terdapat di kitab Mirza, Tuhfah Baghdad halaman 11. Seketika, para pengikut Ahmadiyah diam seribu bahasa.

40. A Hassan meminta kepada Abubakar Ayyub agar bertanya kepada nabinya (Mirza) tentang riwayat hadits itu dan dari mana diambilnya...

41. ...serta tanyakan, bagaimana bumi bisa bicara kpd manusia, sbb hadits itu bukan hadits nabi, mengingat bumi brteriak stlh Rasul wafat..

42. ...Jadi tentu ada org lain yg mndengar omongan bumi & jawaban Allah itupun org lain yg mndengar. Siapa dia? Tanyakan kepada “nabi” Mirza

43. Argumen A.Hassan itupun membungkan Abubakar Ayyub, ia kalah telak tdk bisa membantah. Namun ia berkelit bhw hadits itu ada d kitab lain.

44. Abubakar: ada d Kanzul Ummi, kitabnya Ahmadiyah, namun ia bhkn mlemahkan dirinya dg mngaku tdk mmbawa kitab tsb, jd tdk bisa dilihat.

45. Tegas A.Hassan: "ADANYA HADITS ITU SUDAH CUKUP MENUNJUKAN KEPALSUAN MIRZA!!!". Abubakar Ayyub *Lap Keringat* Hehe

46. Dalam perdebatan dengan Abubakar itu A.Hassan berkata: hadits yang dibawakan oleh Mirza itu dengan jelas menyebutkan bahwa nabi...

47. ...(setelah Nabi Muhammad) tidak ada lagi. Yang ada hanya orang-orang yang hatinya seperti nabi.

48. Dr perdebatan ini jelas bahwa sebenarnya Abubakar Ayyub tdk memiliki hujjah (dalil) yg kuat utk membela Mirza Gulam Ahmad sbg sorg nabi

49. Walau kalah debat dr A.Hassan, tdk lantas Ayyub dan pengikutnya taubat, mrk tetap mengikuti ajaran Nabi palsu Mirza GA laknatullah alaih

50. Skrg kita bahas prestasi A.Hassan yg lain, Sang Maestro Luterasi, satu lagi kelebihan beliau, penulis hebat, sangat produktif.

51. A.Hassan adalah ulama yg sangat produktif dalam menulis. Sepanjang hayatnya beliau menelurkan ribuan karya tulis. Sebagian diterbitkan.

52. Tulisan yg diterbitkan berupa buku dan liflet yg jumlahnya ratusan, beberapa buku sngat populer hingga saat ini, Mjd rujukan para ulama.

53. Yg plg populer adlh Tafsir Al-Furqan, Soal-Jawab ttg Berbagai Masalah Agama (4 jilid), Kitab Pengajaran Shalat & Terjemah Bulughul Maram

54. Tafsir Al-Furqan adlh karya monumental A.Hassan, merupakan tafsir quran pertama yg ditulis oleh org Indonesia dg bahasa Melayu Indonesia

55. Buku2 beliau menyoroti brbagai hal: fiqih, akidah, ibadah, munakahah, hingga politik, sosial, kebangsaan dlm bingkai Keislaman. Amazing

56. A.B.C. Politik, Adakah Tuhan?, Al-Burhan, Al-Fara’id, Al-Hidayah, Al-Hikam, Al-Iman, Al-Jawahir, Manasik, adlh buku2 karya beliau.

57. Al-Mazhab, Al-Mukhtar, An-Nubuwwah, Apa Dia Islam?, Aqaid, At-Tauhid, Bacaan Sembahyang, Belajar Membaca Huruf Arab,Bibel lawan Bibel...

58. Debat Kebangsaan, Debat Luar Biasa, Debat Riba, Debat Taklid, Debat Talqin, Dosa-dosa Yesus, First Step, Hafalan, Hai Cucuku...

59. Hai Putriku, Halalkah Bermazhab?, Is Muhammad a Prophet?, Isa dan Agamanya, Isa Disalib?, Isra’ Mi’raj, Kamus Persamaan, Kamus Rampaian,

60. Kesopanan Islam, Kesopanan Tinggi, Ketuhanan Yesus, Kitab Riba, Kitab Tajwid, Matan Ajrumiyah, Merebut Kekuasaan, Muhammad Rasul...

62. Nahwu, Pedoman Tahajji, Pemerintahan Islam, Pengajaran Shalat, Pepatah, Perempuan Islam, Qaidah Ibtidaiyah, Ringkasan Islam, Syair...

63. Risalah Ahmadiyah, Risalah Hajji, Risalah Jum’at, Risalah Kudung, Special Diction, Surat Yasin, Talqien, Tertawa, Topeng Dajjal..

64. Wajibkah Zakat?, What is Islam, dan masih banyaaaaaakkkk lagi...

65. Karya A.Hassan sebanyak itu menandakan bahwa beliau adalah Sang Maestro Literasi Islam di Indonesia.

66. A.Hassan sering dianggap sbg ulama fundamen, agresif, ekstrem krn sama sekali enggan berkompromi dengan BID'AH.

67. A.Hassan, Sang Guru Persis memang mempunyai pendirian yg kukuh dalam bersikap, jika sudah hitam, hitam, tak kan diputih2kan, Tegas!!!

68. Dlm prinsip Ijtihad, A Hassan menekankan bahwa ijtihad harus merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits yang shahih saja.

69. Implikasinya adalah terpinggirkannya fatwa para kiyai, terutama karena tidak diketahui rujukan nasnya atau bertentangan dengan nas.

70. Kalaupun ada ulama yang dijadikan rujukan itu lebih karena pendapatnya dianggap sesuai dengan nas yang dapat dipertanggungjawabkan.

71. Konsekuensi dr daya kritisnya, A Hassan sangat menentang taklid (mengikuti pendapat tanpa mengetahui alasannya atau dalil) secara mutlak

72. Tetapi memperkenankan ittiba’, yaitu mengikuti suatu pendapat yang jelas dalilnya dan diakui kebenarannya...

73. Dlm beristimbath, A.Hassan lbh mmegang lafaz (kata) yg jelas/zahir dlm mnyimpulkan hukum, brpegang teguh pd zahir nas & menolak takwil

74. A.Hassan sering mndpt surat, berupa pertanyaan, saran, kritik, dan semua surat itu pasti beliau jawab dg lugas dan tegas.

75. Stlh 17 tan brdakwah d Bandung, A.Hassan mmutuskan utk pindah ke Bangil, Pasuruan, Jawa Timur bserta sebagaian santri dan percetakannya.

76. d Bangil, A.Hassan tetap menulis, berdakwah, mengajar dan berdebat, tetap menerbitkan buku2 dan melayani surat2.

77. Tahun 1941 di Bangil itu, A.Hassan mendirikan pesantren PERSIS BANGIL. Muridnya lambat laun mjd banyak & dtang dr sluruh pnjuru negeri

78. Kpribadian A.Hassan yg tangguh, berani mmbela kebenaran, pmbaharu, menghargai pendapat org lain, santun & bijak mnarik prhatian Soekarno

79. Soekarno yg kala itu msh mjd pejuang muda Indonesia sedang diasingkan di Endeh. Kemudian mengirm surat kpd A.Hassan.

80. Soekarno meminta kpd Tuan Hassan (sebutan soekarno kpd A.Hassan) dikirimi buku2 karya A.Hassan utk djadikan sumber rujukan Keislaman.

Sumber : Info Persis http://chirpstory.com/li/98659

KH Muhammad Isa Anshari

November 5, 2010

KH-Isa-Anshary_01

ISA ANSHARI, KH MUHAMMAD (Maninjau, Sumatra Barat, 1 Juli 1916-Bandung, 11 Desember L969). Ulama dan tokoh politik terkemuka di Indonesia. Pada masa kecilnya, Isa Anshari mempejelajari agama Islam langsung dari orang tuanya.

Sebagai ulama yang mempunyai naluri politik, Isa Anshari sangat dikagumi, baik oleh kawan maupun lawan. la mampu berbicara dengan lancar. la dijuluki Singa Podium karena kefasihan lidahnya dan kemampuannya mengobarkan semangat setiap arang yang mendengar kata-katanya. la juga memiiki kesanggupan untuk menyatakan pikirannya dalam bentuk tulisan.

KH-Isa-Anshary_01 Pada masa kolonial Belanda ia adalah kader Partai Sarekat Islam Indonesia cabang Maninjau, "mubalig Muhammadiyah, kader Partai Indonesia cabang Bandung, ketua Persatuan Muslimin Indonesia cabang Bandung, pimpinan Persatuan Pemuda Rakyat Indonesia cabang Bandung, sekretaris Partai Islam Indonesia cabang Bandung, anggota pimpinan Indonesia Berparlemen, sekretaris umum Komite Pembela Islam, pemimpin redaksi aliran Muda dan Laskar Islam, pembantu tetap pelita Andalas Medan, dan pembantu tetap di penerbitan Bandung. Di zaman pendudukan Jepang ' ( 1942-1945) ia memegang jabatan sebagai: pemimpin umum Gerakan Anti Fasis (Geraf), pimpinan Angkatan Muda Indonesia (Persiapan Kemerdekaan), kepala Bagian Penerangan Pusat Tenaga Rakyat (Putera) cabang Bandung, penasihat Gerakan Koperasi cabang Bandung, anggota pimpinan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (*Masyumi), dan anggota pimpinan Majelis Islam (membentuk kader-kader Islam). Adapun setelah Indonesia merdeka, ia mengemban tugas sebagai: ketua umum Barisan Sabilillah, kepala penerangan Dewan Mosilisasi, kepala penerangan Masyumi cabang Bandung, ketua umum Gabungan Organisasi Rakyat,

kepala pusat penerangan Gerakan Muslimin Indonesia, kepala Departemen Agama dan Penerangan Komisaris RIS Jawa Barat, ketua umum Partai Masyumi Jawa Barat, anggota Dewan Pimpinan Masyumi, anggota Parlemen RI, ketua umum pusat Persis dan anggota Konstituante, dan penasihat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) per-wakilan Jawa Barat.

Karya tulis yang dihasilkannya antara lain Bahaya Merah di Indonesia (1956), Barat dan Timur (1948), Bukan Komunisto Fobi, tapi Keyakinan Islam (1960), Falsafah Perjuangan Islam (1949). Inilah Partai Masyumi (1954), Islam dan Demokrasi (1938), Islam dan Kolektivisme (1941), Islam dan Nasionalisme (1955), Islam Menentang Komunisme (1956), Islam Menghadapi Pemilihan Umum (l953),KeDepan dengan Wajah Baru (1960),Manifes Perjuangan Persatuan Islam (1958), Mujahid Da'wah (1966), Partai Komunis Indonesia (PKI) Pembela Negara Asing (1955), Pegangan Melawan Fasisme Jepang (1942), Pesan Perjuangan (1961), Sebuah Manifesto (1952), Tugas dan Peranan Generasi Muda Islam dalam Pembinaan Orde Ban. (1966), Tuntunan Puasa (1940), Ummat Islam Menghadapi Pemilihan Umum (1953), dan Ummat Islam Menentukan Nasibnya (1961). Ada pula karya tulis lain, terutama dalam bentuk serial khotbah Jumat, khotbah hari raya (Idul Fitri dan Idii Adha), dan beberapa judul ceramah yang tidak sempat diterbitkan.

Mohammad Natsir

October 20, 2010

natsir

MOHAMMAD NATSIR (Alahanpanjang, Sumatra Barat, 17 Juli 1908-Jakarta, 6 Februari 1993). Seorang negarawan muslim, ulama intelektual, pembaru dan politikus muslim Indonesia yang kenamaan dan disegani, bergelar Datuk Sinaro Pandjang. Ayahnya bernama Idris Sutan Saripado, seorang pegawai pemerintah Belanda. Ibunya bernama Khadijah, dari keturunan suku Caniago.natsir

Ketika berusia 8 tahun, Mohammad Natsir belajar pada HIS (Hollandsch Inlandsche School) Adabiyah di Padang dan tinggal bersama makcik-nya. Kemudian ia dipindahkan oleh orang-tuanya ke HIS pemerintah di Solok dan tinggal di rumah Haji Musa, seorang saudagar. Di sini ia menerima cukup banyak ilmu. Pada malam hari ia mengaji Al-Qur'an, pagi hari belajar pada HIS, dan sore hari belajar di Madrasah Diniyah. Tiga tahun kemudian ia dipindahkan ke HIS Padang dan tinggal bersama kakaknya, Rabi'ah. Pada tahun 1923 ia meneruskan sekolah ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs/setingkat SMP sekarang) di Padang. Di sini ia menjadi anggota JIB (*Jong Is-lamieten Bond) cabang Padang. Pada tahun 1927 ia melanjut ke AMS (Algemene Middelbare School/ setingkat SMA sekarang) di Bandung. Di MULO dan AMS ia mendapat beasiswa dari pemerintah Belanda. Selama di AMS, ia tertarik untuk lebih menekuni ilmu pengetahuan agama. Waktu luang-nya digunakan untuk belajar agama pada Persatuan Islam di bawah bimbingan Ustad A. Hassan. la lulus dari AMS pada tahun 1930. Nilai prestasi yang diperolehnya memungkinkannya mendapatkan beasiswa untuk menduduki bangku perguruan tinggi.

 

Terdorong oleh kemauannya untuk membela Islam dari pihak yang merendahkannya dan untuk memberikan pemahaman yang tepat tentang Islam, ia menulis artikel-ar-tikel, seperti Muhammad als Profeet dan Quran en Evangelic pada tahun 1929. Pada tahun 1931 ia menulis Kon tot Het Gebed dan Kebangsaan Muslimin. Tahun 1932 ia menulis De Islamietische Vrouw en Hoar Recht, Buku-buku hasil karya lain¬nya ialah Fiqh ad-Da'wah, Capita Selecta, Kebudayaan Islam, dan ad-Din au al-Ladiniyyah

 

Sejak sekolah di MULO, ia sudah mulai mengenal semangat perjuangan. la masuk menjadi anggota kepanduan pada JIB. Ketika belajar di AMS ia menjadi anggota JIB cabang Bandung dan kemudian diangkat menjadi ketua (1928-1932). Minatnya terhadap politik, perhatiannya terhadap nasib bangsanya yang tertindas, dan tekadnya untuk meluruskan ke-salahpahaman umat terhadap ajaran agama, telah melibatkan dirinya dalam bidang politik dan dakwah serta menolak setiap tawaran dari pemerintah Belanda, seperti meneruskan sekolah ke Fakultas Hukum Jakarta, Fakultas Ekonomi Rotterdam Belanda atau menjadi pegawai pemerintah. Kegiatan politik-nya terus berkembang setelah lebih jauh berkenal-an dengan tokoh-tokoh gerakan politik seperti H Agus Salim, Wihono Purbohadijoyo, dan Syamsu-rijal. Karena kegigihannya dalam perjuangan, pada masa kemerdekaan ia menduduki jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan Republik Indonesia. Di samping itu, jiwa dai yang telah dimilikinya sejak muda terus dibinanya sampai masa usia tuanya.

Sejak tahun 1932 sampai 1942, Mohammad Natsir diangkat sebagai direktur Pendidikan Islam di Bandung; dari tahun 1942 sampai 1945, sebagai kepala Biro Pendidikan Kotamadia Bandung (Bandung Syiakusyo); dan dari tahun 1945 sampai 1946 sebagai anggota badan pekerja KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) dan kemudian menjadi wakil ketua badan ini. Pada tahun 1946 (Kabinet Sjahrir ke-2 dan ke-3) dan 1949 (Kabinet Hatta ke-1) ia menjadi menteri Penerangan RI; dan dari tahun 1949 sampai 1958 ia diangkat menjadi ketua umum Partai Masyumi. Sejak tahun 1950 sampai 1951 ia menjadi perdana menteri negara kesatuan Republik Indonesia. Dalam pemilu tahun 1955 ia terpilih menjadi anggota DPR. Dari tahun 1956 hingga 1958 ia menjadi anggota Konstituante RI dan sejak tahun 1958 menjadi deputi perdana menteri PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) sampai akhirnya pada tahun 1960 di-tangkap oleh pemerintah dengan tuduhan ikut terlibat dalam pemberontakan PRRI. Sejak tahun 1962 sampai dengan tahun 1966 ia ditahan di Ru-mah Tahanan Militer (RTM) Keagungan Jakarta. Sejak dibebaskan dari tahanan, ia aktif pada organisasi-organisasi Islam internasional, seperti pada Kongres Muslim Sedunia (World Moslem Cong¬ress) pada tahun 1967 yang bermarkas di Karachi, sebagai wakil presiden. Pada tahun 1969 ia masuk menjadi anggota Rabitah al-Alam al-Islami (World Moslem League) di Mekah. Pada tahun 1976 ia menjadi anggota Dewan Masjid Sedunia (al-Majlis al-A'la al-'Alami li al-Masajid) yang bermarkas di Mekah. Adapun di Indonesia sejak tahun 1967 sampai dengan masa usia tuanya, ia dipercaya men¬jadi ketua DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, al-Majlis al-A'la al-Indunisi li ad-Da'wah al-Islamiyah). Di samping jabatan dan kegiatan di atas, ada beberapa kegiatan dan jabatan lainnya yang sempat dijalaninya, seperti sebagai penulis tetap artikel pada majalah Pembela Islam dan Suara Republik, penasihat delegasi Indonesia da¬lam perundingan antara Indonesia dan Belanda, serta penasihat SBII (Serikat Buruh Islam Indone¬sia). Karena peran yang dimainkannya pada dunia Islam internasional, ia mendapat penghargaan King Faisal Foundation dari Arab Saudi.

Kebiasaan menulis Mohammad Natsir sudah dimulai sejak sekolah di AMS. Pada waktu menduduki kelas IV AMS ia menulis sebuah analisis tentang "Pengaruh Penanaman Tebu dan Pabrik Gula bagi Rakyat di Pulau Jawa." Terdorong oleh kemauannya untuk membela Islam dari pihak yang merendahkannya dan untuk memberikan pemahaman yang tepat tentang Islam, ia menulis artikel-ar-tikel, seperti Muhammad als Profeet dan Quran en Evangelic pada tahun 1929. Pada tahun 1931 ia menulis Kon tot Het Gebed dan Kebangsaan Muslimin. Tahun 1932 ia menulis De Islamietische Vrouw en Hoar Recht, Buku-buku hasil karya lain¬nya ialah Fiqh ad-Da'wah, Capita Selecta, Kebudayaan Islam, dan ad-Din au al-Ladiniyyah.

A Hassan Ulama Besar Persatuan Islam

October 11, 2010

A Hasan Walaupun bukan pendiri Persatuan islam ( Persis ), namun A Hassan sosok yang paling berpengaruh dan merupakan guru central bagi persatuan islam. karya-karya nya menjadi rujukan bagi generasi penerus persis  sampai saat ini, terutama buku “ Soal Jawab “, Tafsir Qur’an “ Al-Furqon “, dan tentang Tauhid – yang masih di pelajari sebagian santri pesantren persatuan islam.

Menurut dari berbagai buku sejarah, A. Hasan adalah sosok ulama yang aktif dalam mengkaji Islam dan aktif pula dalam berdakwah, dalam hal ini sangat menaruh perhatian terhadap para pemuda Islam yang sedang bersekolah di sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial Belanda yang sangat kurang memberikan pelajaran agama Islam.

A. Hassan menyadari bahwa anak-anak muda yang tengah menuntut ilmu itu adalah calon pemimpin di masa datang yang perlu dibekali dengan pengetahuan agama yang memadai. Tekad A. Hassan untuk menarik para pemuda pelajar itu sangat kuat, bagaimanapun sibuknya, ia senantiasa menyempatkan diri untuk berbicara dengan para pemuda pelajar itu. Ditundanya pekerjaan yang sedang dikerjakannya, baik sedang mengoreksi buku atau sedang menyusun tafsir, bercakap-cakap dengan para pemuda calon pemimpin umat itu Dinggapnya lebih penting.

Diantara murid-murid sekolah menengah yang sering ke rumah A. Hassan untuk bertanya dan membahas soal-soal agama Islam adalah Moehammad Natsir. Moehammad Natsir dilahirkan di Alahan Panjang Sumatra Barat pada tanggal 17 juli 1908, ia adalah anak seorang pegawai pemerintah.

Moehammad Natsir tinggal di Bandung sejak tahun 1927 untuk melanjutkan studinya pada AMS (Algemene middelbare school setingkat SMA sekarang) setelah ia menyelesaikan sekolah dasarnya di HIS (Hollandsch Inlandsch school) dan sekolah menengah pertamanya di MULO (meet Uitgebreid Lager Onderwijs) di Minangkabau. Selain menyelesaikan sekoah formalnya, Natsir pun pernah belajar di sekolah agama di Solok yang dipimpin oleh Tuanku Mudo Amin, seorang pengikut dan kawan Haji Rasul tokoh gerakan pembaharuan Islam di Sumatra Barat. Ia juga mengikuti pelajaran agama secara teratur yang diberikan oleh Haji Abdullah Ahmad di Padang. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa Moehammad Natsir telah mengenal ajaran-ajaran kelompok pembaharu sejak kecil (Delar Noer, 1985:100).

Di Bandung, minat Natsir terhadap agama semakin tinggi. Pada tahun 1929 ia mulai mengajar agama Islam di HIK (Hollands Inlandsche Kweekschool; sekolah guru) dan MULO. Selain itu ia berusaha memperdalam agamanya dengan turut serta secara teratur mengikuti shalat jum’at dan pengajian-pengajian yang diselenggarakan oleh Persis serta mengikuti pelajaran agama di kelas khusus yang diadakan oleh A. Hassan untuk para pemuda pelajar yang sedang belajar di berbagai sekolah milik pemerintah Belanda.

Moehammad Natsir adalah orang yang terlibat dalam proses kaderisasi dibawah bimbingan A. Hassan. Dalam proses kaderisasi ini, Natsir mengalaminya pula dalam organisasi Jong Islamieten Bond cabang Bandung di bawah bimbingan Agus Salim.

A.Hassan telah berhasil memberikan pemahaman keagamaan yang kuat hingga banyak melahirkan sosok ulama potensial. Moehammad Natsir menjadi orang yang beruntung mendapat warisan kecendekiaan Agus Salim dan warisan keulamaan A. Hassan. Hasilnya, Moehammad Natsir pernah menduduki berbagai jabatan penting, antara lain Ketua Pusat Pimpinan Persis, Ketua Partai Islam Indonesia Cabang Bandung pada zaman kolonial Belanda, Ketua Umum DPP Partai Masyumi, Perdana Mentri RI, Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), disamping kedudukannya sebagai Wakil Presiden Mu’tamar Al-Alam Al-Islami dan anggota Majelis Ta’sisi Rabithah Al-Alam Al-Islami (Endang Syaifuddin Anshary, 1985:23).

Selain Moehammad Natsir, tokoh-tokoh ulama dan politikus yang pernah menjadi murudnya antara lain adalah K.H.M Isa Anshary yang pernah menjadi Ketua Umum Pusat Pimpinan Persis (1948-1960); Ketua Umum Masyumi Jawa Barat dan anggota DPP Masyumi. Moehammad Natsir dan Isa Anshary dalam pandangan politiknya  merupakan lawan dari Soekarno, yang juga pernah berguru kepada A. Hassan dalam berbagai persoalan keagamaan. Demikian pula Ustadz K.H.E Abdurrahman, Pemimpin pesantren Persis Bandung dan Ketua Umum Pusat Pimpinan Persis (1962-1983) yang juga pengasuh majalah At-Taqwa dan majalah Risalah adalah murud A. Hassan yang melanjutkan mengelola pesantren Persis di Bandung sejak ditinggalkan pindah oleh A. Hassan ke Bangil pada tahun 1941.

Diantara murud-murudnya yang lain yang kemudian menjadi ulama besar dan memimpin pesantren-pesantren besar, adalah Ustadz Abdul Qadir Hassan, putra tertua A. Hassan, yang memimpin pesantren Persis di Bangil dan pengasuh majalah Al-Muslimun serata pernah menjadi ketua Majelis Ulama Persis (sekarang Dewan Hisbah); K.H.O.Qomaruddin Shaleh, oensyarah dan pernah menjadi Wakil Ketua Pusat Pimpinan Persis; K.H.M. Rusyad Nurdin, pensyarah di beberapa perguruan tinggi, ulama tekenal, dan pernah menjadi Wakil Ketua Pusat Pimpinan Persis dan Ketua DDII perwakilan Jawa Barat; Fakhroeddin Al-Khahiri, ulama besar teman seperjuangan Moehammad Natsir pada saat berguru kepada A. Hassan; dan masih banyak lagi ulama-ulama di daerah yang menjadi guru, ulama, mubaligh dan aktivis dalam berbagai organisasi keislaman, terutama para santri Persis angkatan pertama yang menjadi pelopor dan penggerak tegaknya Qur’an-Sunnah di tempat asal mereka.

Disamping itu dapat pula diungkapkan beberapa kawan seperjuangan A. Hassan dalam menegakan Al-Qur’an dan Sunnah, disamping menjadi teman berdialog A. Hassan yang banyak menerima berbagai pemikiran yang dikemukakan A. Hassan, antara lain Ustadz Moenawar Chalil (Semarang), Ustadz K.H. Imam Ghazali (Jamsaran Solo), Prof. Dr. T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy (Yogyakarta), Ustadz Abdullah Ahmad (Jakarta), Ustadz M. Ali Hamidy (Jakarta), Ustadz Abdul Hakim dan Ustadz H. Zainuddin Hamidy (Minangkabau) dan lain-lain.

Baca Juga :

sumber : w174rd.tk