Tumbuh dalam asuhan pendidikan keagamaan oleh A. Hassan, seorang tokoh modernis, Natsir mampu mengembangkan pemikirannya jauh melampui lingkungan pendidikan formalnya. Pada sekitar tahun 1930-an, dalam usia sekitar tiga puluhan, Natsir telah aktif menulis tentang berbagai persoalan keilmuan dan terlibat dalam perdebatan ilmiah dengan berbagai kalangan. Melalui tulisan-tulisannya, ketika itu, tampak Natsir sudah membaca berbagai literatur tentang aqidah, sejarah, ilmu kalam, tasawuf, filsafat, syariah, perbandingan agama, dan sebagainya. Hampir dalam setiap tulisannya, Natsir mampu meramu dengan baik, sumber-sumber dari kalangan Muslim maupun karya-karya orientalis Barat. Ambillah satu contoh sebuah artikel berjudul ”Muhammad al-Ghazali (450-505 H, 1058-1111)”, yang dimuat di majalah Pedoman Masyarakat, April 1937.
AL-GHAZALI DIMATA M. NATSIR
November 29, 2019
Tumbuh dalam asuhan pendidikan keagamaan oleh A. Hassan, seorang tokoh modernis, Natsir mampu mengembangkan pemikirannya jauh melampui lingkungan pendidikan formalnya. Pada sekitar tahun 1930-an, dalam usia sekitar tiga puluhan, Natsir telah aktif menulis tentang berbagai persoalan keilmuan dan terlibat dalam perdebatan ilmiah dengan berbagai kalangan. Melalui tulisan-tulisannya, ketika itu, tampak Natsir sudah membaca berbagai literatur tentang aqidah, sejarah, ilmu kalam, tasawuf, filsafat, syariah, perbandingan agama, dan sebagainya. Hampir dalam setiap tulisannya, Natsir mampu meramu dengan baik, sumber-sumber dari kalangan Muslim maupun karya-karya orientalis Barat. Ambillah satu contoh sebuah artikel berjudul ”Muhammad al-Ghazali (450-505 H, 1058-1111)”, yang dimuat di majalah Pedoman Masyarakat, April 1937.
Satrio Piningit Dalam Agama Wahyu
July 10, 2015
Di musim Pilkada dan Pemilu Nasional, kalau ada para politisi yang dirancang oleh ahli komunikasinya menisbatkan diri sebagai Satrio Piningit, maka itu adalah kebohongan besar. Mana ada politisi berjuang melawan ketidakadilan yang sangat militan sebagaimana militansi seorang Nabi membebaskan perbudakan.
Satrio Piningit dalam tradisi agama-agama langit biasa disebut sebagai paham “messianisme”. Cendikiawan Nurcholish Madjid pernah mengulas lengkap tentang paham ini. Ia mendefinisikan messianisme merupakan faham menantikan datangnya seorang "messiah" yang diharapkan menyelamatkan umat manusia.
Pembebasan tersebut dilakukan dengan cara berjuang melawan perilaku dan watak seenak perut sendiri sebuah rezim. Karena itu tema paling menonjol dari kehadiran seorang Messias adalah melawan ketidakadilan.
Perkataan "messiah" berasal dari bahasa Ibrani, yaitu "messiah". Kata ini padanan dari perkataan Arab “al-masih”. Dalam sejarah, mesianisme merupakan faham keagamaan yang sangat kuat dan muncul pertama kali di kalangan bangsa Yahudi. Ketika itu kaum Yahudi mengalami perbudakan di Babilonia sekitar tujuh abad lebih sebelum Masehi.
Perbudakan itu terjadi sebagai akibat kekalahan mereka menghadapi serbuan tentera Nebukadnezar yang menghancurkan negeri mereka. Ketika itu wilayah negeri Yahudi meliputi Samaria dan Judea, di Kanaan di Palestina Selatan dan di Yerusalem, tepatnya di Bait al-Maqdis yang menjadi ibukota mereka. Kaum Yahudi kala itu kalah, lalu diboyong ke lembah Mesopotamia untuk kerja paksa.
Dalam keadaan sangat tidak berdaya, kaum Yahudi begitu putus asa, sampai-sampai mereka memohon pembebasan kepada Tuhan. Merasa sebagai "manusia pilihan" (the chosen people), mereka yakin Tuhan pasti mengabulkan do'anya, yaitu dari langit akan diturunkan seseorang yang diutus sebagai juru selamat. Ia adalah seorang pemimpin agama sekaligus sebagai penguasa seperti raja. Secara pelahan tapi pasti, keyakinan pada kehadiran juru selamat dari langit tumbuh permanen dalam bentuk kepercayaan keagamaan.
Tapi sebetulnya, perkataan "mesiah" yang padanannya dalam bahasa Arab "al-masih" mengandung arti yang sederhana. Secara harfiah, al-masih artinya "orang yang diusapi". Arti harfiah ini seringkali digunakan dalam bahasa Inggris dengan perkataan "the annointed one" atau wu’ dalam perkataan kaum muslim yang berarti “mengusap kepala”. Dan bukan kebetulan perkataan ini kemudian menjadi kalimat wudhu yang menekankan pada pensucian diri sebelum ritual shalat atau menghadap Tuhan.
Pengusapan kepala ini kalangan kaum Yahudi atau Bani Isra'il merupakan bagian penting dari upacara pengangkatan seseorang menjadi pemimpin agama sekaligus berperan sebagai penguasa atau raja. Kaum Yahudi menggunakan cara pengusapan kepala ini terhadap Nabi Dawud. Karena itulah, sebagai seorang yang berasal dari Bani Isra’il, Nabi Isa putera Maryam yang bergelar “al-Masih” merupakan pengakuan masyarakat kepadanya sebagai seorang pemimpin agama terkemuka.
Jadi gelar al-Masih dalam sistem keagamaan yang berakar dalam kebiasaan kalangan Yahudi, sebetulnya tidak secara khas hanya untuk Nabi Isa saja, tapi juga untuk para pemimpin agama di kalangan kaum Yahudi saat itu.
Tradisi semacam itu kemudian berkembang sedemikian rupa, dan digunakan oleh para penguasa Vatikan dalam memberikan berkah. Atau dalam pengangkatan raja-raja di Eropa, terutama di Inggris, yang seringkali kepalanya diusapi. Ini pertanda bahwa seseorang yang tampil sebagai penguasa mesti mensucikan diri. Sebab tugasnya yang memangku amanat yang agung.
Hari ini, seseorang yang tampil sebagai penguasa begitu mudah mengkhianati amanat tersebut. Pengusapan kepala yang disertai dengan sumpah memangku amanat tak lebih dari sekedar seremoni. Tidak ada perjuangan yang tampak sangat militan dari seorang pemimpin.
Di masa sekarang, perbudakan itu berupa cengkraman kaum pemodal. Mereka bukan saja menindas rakyat dengan memonopoli di segala sektor perekonomian, tapi juga menguasai kebijakan politik dengan menjadikan para elit politik, birokrat dan aparat sebagai ‘budak’ atau orang suruhannya.
Maka, dalam keadaan khianat terhadap amanat rakyat itulah, sebuah bangsa akan merasakan nasib sebagaimana halnya kaum Yahudi ketika masih menjadi budak. Mereka selalu mengharapkan perubahan nasib dan datangnya Juru Selamat dari langit.
Kalau menyambung sejarah penantian bangsa Yahudi yang terasing di Babilonia, pada akhirnya memang mereka dibebaskan dari perbudakan. Tapi itu bukan oleh kehadiran sang Juru Selamat, melainkan oleh sebuah peristiwa.
Peristiwa itu adalah peperangan antara bangsa Persia versus Babilonia, dan kaum Yahudi ikut berjasa mengalahkan penguasa Babilonia. Peristiwa ini juga mengingatkan pada sejarah bangsa Inggris yang memenangi Perang Dunia ke-II, dan membalas jasa kepada kaum Zionis Yahudi dengan membuka jalan kepada mereka untuk membangun negara Israel di atas tanah Palestina..
Bangsa Persia pada masa dinasti Achaemenid juga mengizinkan kaum Yahudi kembali dari Babilonia ke Palestina. Maka tak mengherankan bila kaum kaum Yahudi saat itu menganggap bahwa bangsa Persia sebagai Juru Selamat atau Messiah. Tapi, karena yang memimpin mereka kembali ke Palestina itu adalah seorang nabi yang bernama 'Uzayr, maka banyak orang Yahudi yang percaya bahwa Uzayr inilah Sang Juru selamat sesungguhnya. Bahkan sekelompok orang Yahudi yakin tokoh ini merupakan “anak Allah” (ibn al-Lah). ***
sumber : indonesianreview.com
Ketika Mahasiswa Asing ITU Menikmati Gerakan Shalat
November 29, 2010
REPUBLIKA.CO.ID MALANG - Beberapa hari ini Lukas meminta diajari cara shalat. Maunya semua shalat ritual ditunjukkan tanpa ada yang terlewatkan. Cara Mulai berwudhu hingga gerakan-gerakan shalat dari takbiratul Sadik sampai as-salam.
Tak hanya ITU, dia pun beberapa kali mempraktekkan sholat sebagai makmum di musala Chwistek Biro Kerjasama Luar Negeri (BKLN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)."Saya menikmati gerakan-gerakan shalat.Bagus sekali,"kesannya.""
NAMA lengkapnya Lukas Maximilian von Rantzau.Dia adalah mahasiswa University of Dresden, Jerman, yang sedang mengikuti student program Exchange di UMM. Dalam program di bawah naungan Erasmus Mundus External Cooperation Window (EMECW) yang didanai oleh Komisi United Eropa ITU, Lukas dan beberapa teman lainnya dari Eropa selama satu half mengikuti kuliah di berbagai jurusan di UMM.
Sebaliknya, 27 mahasiswa UMM, saat ini mengikuti kuliat tersebar di tujuh negara untuk program yang sama. Tujuh ITU adalah Austria ItAli, Turki, Jerman, Finlandia, Spanyol negara dan Portugal.
Pelajaran shalat tentu tidak termasuk dari mata kuliah diikuti Lukas.Selain yang memang non-Muslim, dia mengambil jurusan Hubungan Internasional, bukan Tarbiyah fa'atau Syari'ah .Tetapi keingintahuannya tentang shalat on timbul Kara melihat gerakan-gerakan shalat yang membuatnya terkagum.
"INI seperti meditasi." Tadic saya capai sekali ikut shalat lumayan rileks, jadi setelah "ujar Lukas usai mengikuti Shalat Zuhur, Rabu, 27/10)."
SWB hal tentang shalat
Untuk sementara keingintahuan, Lukas hanya sebatas article gerakan shalat bagi kebugaran fisiknya.DIA hanya bisa menilai, jika dilakukan lima kali sehari tentu shalat menyehatkan akan tubuh. Saya mengajak dia berdiskusi kecil tentang substansi shalat.Saya kemukakan beberapa saja yang mudah dipahaminya agar tidak terlalu membebani kognisinya, Kara dia baru belajar bahasa Indonesia. Saya hanya menyampaikan beberapa hal.
Pertama, kenapa harus lima.Kita hidup di bawah irama waktu yang tak menentu waktu shalat. Kadang rhytm kita cepat, kadang lambat. Kadang kita lupa waktu jika bekerja fa'atau emosi sedang memuncak. Maka waktu shalat mengingatkan akan kembali menghadap Allah menyerahkan segala sesuatunya kepada Yang Maha Memiliki Waktu agar kita.
Lihatlah, betapa Allah mengatur lima waktu dengan sangat indah.Subuh bangun zuhur ketika sedang puncak-puncaknya bekerja asyar tenaga kita mulai melemah saat kita kita ketika ITU shalat. Lalu di waktu kita dengan keluarga, dan isya sebelum kita semua aktivitas di hari ITU meninggalkan berkumpul maghrib. Luar biasa indahnya!
Kedua, shalat tak hanya soal gerakan fisik.Mata batin kita juga bergerak mendekatkan diri kepada-Nya. Meninggalkan segala sesuatu yang bersifat duniawiyah.Rituel berwudhu adalah membersihkan agar kita lebih siap menghadap batin diri Kita. Jadi bukan hanya untuk kebersihan tubuh semata - mata. Gerakan takbiratul ihram, rukuk, sujud semata - mata tak berolahraga, tetapi membuat hati sebab sesungguhnya kita amatlah kecil di hadapan Yang Maha Akbar irama.
Ketiga tidak ada status sosial yang melekat dalam shalat. Mengajarkan agar sebelum shalat berjamaah diluruskan, shaf-shaf Islam dirapatkan. Ini bermakna sesungguhnya ITU rapi Islam dan terorganisasi mengikuti pemimpin (imam) - nya.Islam bukan sebuah //crowded group fa'atau kelompok kerumunan yang terpecah pecah dan bicara sendiri-sendiri.
Meski demikian, tak ada status sosial yang lebih tinggi fa'atau lebih rendah.Yang ada adalah kesejajaran equalitas, sebab siapapun melakukan shalat tak dipandang pejabat fa'atau keturunan ningrat berbaris gerakan rukuk dengan semua yang dan sujud yang ada untuk siapapun, misalnya dengan yang tidak usah rukuk fa'atau sujud pejabat dispensasi //prevelage sama.Tak.
Keempat, sosial terpenting mengajarkan di dalam sholat ITU mengandung dimensi teologis sekaligus sesungguhnya Allah yang ini.Shalat dimulai dengan mengangungkan Allah "Allahu Akbar".Lalu diakhiri as-salam, mendoakan umat Islam, ada yang di sekitar kanan-kiri kita dengan nama: "Assalamu'alaikum warahmatullah….".».Rupanya Allah tidak memonopoli agar shalat ITU untuk-Nya semata - mata, tetapi juga untuk umat manusia agar selamat sejahtera di muka bumi dan di akhirat pledged.
Maka tak heran, ajaran shalat juga diberi frame yang keras oleh Allah melalui surat al - Ma' a."Maka celakalah bagi orang yang shalat."Yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya .Orang-orang yang berbuat Jamahiriya."Dan orang-orang yang enggan menolong dengan barang berguna."(QS 107: 4-7) .Rupanya Allah "mengancam", melakukan shalat saja tidaklah cukup, bahkan bisa tergolong "celaka", jika tidak dilakukan dengan ikhlas dan tak disertai amalan sosial menolong anak yatim dan kaum miskin.
If Kisah Murad
Saya teringat dengan if Murad, sopir pribadi Dubes Indonesia untuk Turki, waktu mengantarkan saya mencarikan di dormitory Ankara beberapa waktu lalu.Sewaktu saya ajak shalat, dia bilang malas.Katanya dia belum siap dengan konsekuensinya mengamalkan shalat dalam kehidupan sehari-hari.
Meski saya ITU alasan yang dibuat-buat Kara ternyata tahu dia coastal sangat bisa pergi ke Hajj haji, tetapi ada benarnya juga.Dia tidak mau dianggap sebagai agama .Meskipun sebenarnya meninggalkan shalat tak kalah celakanya pendusta.
Rupanya Lukas, if Bule Jerman Tadic semakin penasaran.Mungkin dia tak menyangka di dalam gerakan shalat yang diikutinya mengandung dimensi yang begitu mengagumkan.Semoga jika dia akan Cyclopterus shalat, tak hanya gerakannya, tetapi makna belajar dan substansinya.
Bukan untuk membawa Jika dia ketertarikan pada Islam, setidaknya mengurangi stigma islamofobia - ketakutan pada Islam - yang selama ini melekat di benak dunia Barat .Wallahua banyak kepada'lam.

