===========================
Kalimat ikhtilaf dalam al-Quran terdapat dalam surat al-Baqarah : 176, al-Baqarah : 213,al-Baqarah : 253, an-Nisa' : 157, Yunus : 93, anNahl : 64, an-Nahl : 124, al-Jatsiyah : 17 merupakan ikhtilaf dalam akidah.
Dalam satu hadits, Rasulullah Sollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
اسْتَوُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ"Luruskan, jangan bengkok agar hatimu tidak berpecah belah.” (H.R. muslim, no. 269).
لاَ تَخْتَلِفُوا فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اخْتَلَفُوا فَهَلَكُوا"Janganlahkalian berselisih karena orangorang sebelum kalian berselisih hingga akhirnya mereka binasa". (H.R. Bukhori, no. 2233).
Untuk mewujudkan Persatuan Umat, menurut HT. Romly, perlu banyak anasir untuk menegakkannya, salah satunya adalah perlunya kesamaan dalam memahami "i'tishaambihablillah", yaitu berpegang teguh pada Kitaabullah. Keragaman dalam memahami itulah yang disebut "ikhtilaaf",yakni perbedaan pendapat. Berbeda memahami itu bukanlah hal 'aib dalam agama,
selama adad-adabnya diperhatikan. Selain Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam mengisyaratkan "Akan banyak perbedaan sepeninggalnya", juga lebih awal Kitabullah memberikan bimbingan "Fain tanaaza'tum fiesyai'in farudduhhu ilallaahi warRasuuli", artinya: jika kalian silang pendapat, kembalilah pada Allah dan rasulNya." (Q.S.An- nisaa/ 4: 59).
selama adad-adabnya diperhatikan. Selain Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam mengisyaratkan "Akan banyak perbedaan sepeninggalnya", juga lebih awal Kitabullah memberikan bimbingan "Fain tanaaza'tum fiesyai'in farudduhhu ilallaahi warRasuuli", artinya: jika kalian silang pendapat, kembalilah pada Allah dan rasulNya." (Q.S.An- nisaa/ 4: 59).
Kata "fiesyai'in", sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisa' : 59, menunjukkan semua
perkara besar dan kecil wajib merujuk padanya. Siapa melepaskan keduanya, berarti yang akan masuk adalah hawa nafsu. Demikian Al-Ghaniman menguraikan dalam risalahnya Al-Hawaawa Atsaruhu fielKhilaaf. Agar perbedaan (ikhtilaaf) tidak berubah menjadi perpecahan (iftiraaq), sebagaimana dikutip oleh Al Ustadz HT Ramli, para ulama yang hanif memberikan penawarnya, di
antaranya:
perkara besar dan kecil wajib merujuk padanya. Siapa melepaskan keduanya, berarti yang akan masuk adalah hawa nafsu. Demikian Al-Ghaniman menguraikan dalam risalahnya Al-Hawaawa Atsaruhu fielKhilaaf. Agar perbedaan (ikhtilaaf) tidak berubah menjadi perpecahan (iftiraaq), sebagaimana dikutip oleh Al Ustadz HT Ramli, para ulama yang hanif memberikan penawarnya, di
antaranya:
- Hendaknya menghindari prasangka (zhann) dan hawa nafsu dalam menafsirkan sesuatu.
- Hendaknya menghindari fanatik buta ('ashabiyyatula'maa).
- Hendaknya menghindari sikap berlebihan (ghuluw).
- Hendaknya mendahulukan dalil nash (naqli') sebelum dalil aqal ('aqli).
- Hendaknya memahami etika berbeda pendapat (adaabulikhtilaaf).
- Hendaknya menghindari intervensi musuh (kaiydula'daa).
- Tidak membiasakan debat kusir tanpa ilmu yang akan membuat permusuhan (khushuumaat).
Baca Juga :
Para ulama diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa khilaf (perbedaan) itu ada dua macam: Pertama, Khilaf Tadhod (Yaitu khilaf yang terjadi di dalamnya kontradiksi) seperti masalah menyentuh wanita membatalkan wudhu' atau tidak, keluarnya darah membatalkan wudhu atau tidak, khomr najis atau bukan. Khilaf seperti ini dikatakan tadhod –yakni khilaf yang saling bertentangan (kontradiksi). Ketahuilah bahwa khilaf seperti ini bisa dipastikan: tidak mungkin semua pendapat benar, karena sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam tidak bertentangan satu dengan lainnya. Untuk perbedaan ini, kewajiban kita adalah berusaha melihat mana
yang benar dengan kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Kedua, Khilaf tanawu' (Yaitu
perbedaan yang sumbernya adalah keragaman pengamalan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam misal, perbedaan bacaan do’a iftitah, bacaan dzikir ketika sujud, dan bacaan duduk diantara dua sujud. Untuk perbedaan ini, kita diperbolehkan untuk berbeda-beda dalam mempraktekannya.
yang benar dengan kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Kedua, Khilaf tanawu' (Yaitu
perbedaan yang sumbernya adalah keragaman pengamalan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam misal, perbedaan bacaan do’a iftitah, bacaan dzikir ketika sujud, dan bacaan duduk diantara dua sujud. Untuk perbedaan ini, kita diperbolehkan untuk berbeda-beda dalam mempraktekannya.
No comments:
Post a Comment