Showing posts with label KajianUmum. Show all posts
Showing posts with label KajianUmum. Show all posts

PENTINGNYA PEMIMPIN YANG CINTA AL-QUR'AN

November 4, 2018


Oleh. Dr. Adian Husaini

“Andaikan penduduk suatu negeri mau beriman dan bertaqwa, maka pasti akan Kami buka pintu-pintu barakah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ajaran-ajaran Allah), maka Kami azab mereka, karena perbuatan mereka sendiri.” (QS: Al A’raf:96).

Al-Qur’an Surat al-A’raf  ayat 96 tersebut dengan sangat gamblang memberi kabar gembira, bahwa jika suatu bangsa mau mendapatkan kucuran rahmat dan dijauhkan dari berbagai musibah, maka iman dan taqwa harus dijadikan sebagai nilai tertinggi dalam pengambilan kebijakan dan keputusan. Tentu saja, itu termasuk dalam penentuan pemimpin, baik pada tataran keluarga,  kelompok, atau pun pada tataran kenegaraan.



Pemimpin yang beriman dan bartaqwa pasti bekerja sekuat tenaga menjalankan amanah yang diembannya; mendahulukan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan golongannya; bekerja keras untuk menjaga dan membina iman dan taqwa bangsanya; bukan sekedar berkutat pada urusan dunia semata; bekerja keras mencukupi kebutuhan-kebutuhan dasar rakyatnya; takut azab Allah di dunia dan akhirat; takut mengambil hak rakyat; dan menangis jika rakyat susah dan sengsara.

Pemimpin taqwa dan cinta al-Quran, tidak mau munafik; malu kepada Allah,  jika peduli rakyat demi pencitraan di depan manusia; bukan karena cinta dan takut pada Allah Subhanahu Wata’ala. Pemimpin taqwa takkan tinggalkan shalat demi kampanye dan konser sia-sia. Pemimpin taqwa pun cinta bangsa karena Tuhannya, bukan karena tanah subur semata. Pemimpin taqwa tak hambur uang negara untuk pesta pora tiada guna, karena takut siksa neraka.

Bagi Muslim, memilih pemimpin berdimensi ibadah; dunia akhirat; bukan sekedar itung-itungan rebutan kuasa dunia. Berpolitik adalah bagian dari ibadah dan dakwah, bukan untuk berbangga-bangga akan banyaknya golongan dan himpun harta benda dunia. Karena itu, pemimpin beriman dan bertaqwa mustilah zuhud – tidak gila dunia – dan hidup bersahaja; tidak pamer kemewahan di depan rakyat yang sebagian besarnya masih berkubang dalam belitan kesulitan hidup.

Dalam Kitab as-Siyasah Syar’iyyah,  Syaikhul Islam Ibn Taimiyah mengutip hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang memperingatkan kaum Muslimin agar berhati-hati dalam memilih pemimpin: “Siapa yang mengangkat seseorang untuk mengelola urusan (memimpin) kaum Muslimin, lalu ia mengangkatnya, sementara pada saat yang sama dia mengetahui ada orang yang lebih layak dan sesuai (ashlah) daripada orang yang dipilihnya, maka dia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR Al-Hakim).

Jadi, kita tidak patut sembarangan tentukan pemimpin. Apalagi pemimpin pada level kenegaraan. Ada tanggung jawab dunia akhirat. Jika memilih pemimpin bukan yang terbaik menurut kriteria Islam, maka bisa dikategorikan telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya; na’udzubillahi min dzalika. Dalam Islam, pemimpin bukan sekedar mengurus masalah dunia. Ia akan dimintai tanggung jawab di akhirat. Pemimpin bukan sekedar mengurus KTP, pajak, dan administrasi kependudukan. Tapi, pemimpin akan dimintai tanggung jawab apakah ia telah berusaha meningkatkan keimanan dan ketaqwaan rakyatnya, atau justru ia merusak keimanan rakyatnya.

Pemimpin dalam Islam wajib peduli, apakah rakyatnya menyembah Allah Subhanahu Wata’ala atau menyembah genderuwo;  ia akan sangat peduli, apakah rakyaknya lebih suka beribadah atau hobi bermaksiat; ia pun berusaha keras untuk mencegah dan menutup pintu-pintu zina.  Sangat aneh, jika pemimpin yang secara formal memeluk agama Islam, tetapi justru melarang rakyatnya menutup aurat. Sepatutnya, pemmpin tidak berani menantang Tuhannya dengan melarang jilbab yang justru diwajibkan Sang Pencipta. Jadi, kepemimpinan dalam Islam memiliki dimensi ubudiyah dan dimensi akhirat. Jangan dianggap selesai urusannya di dunia!

 *****

Indonesia, negeri kita, kini merupakan negeri Muslim terbesar di dunia. Dulunya, negeri-negeri di wilayah Nusantara ini 100% Hindu, Budha, Animis, dan sebagainya. Lalu, datanglah para pejuang Islam yang hebat dari berbagai negeri Muslim. Mereka bekerja keras, secara sungguh-sungguh dan terencana untuk meng-Islamkan negeri ini. Mereka rela meninggakan negeri dan keluarga mereka dengan tujuan mulia, menyebarkan Islam ke seluruh pelosok dunia, sebagaimana diamanahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam.

Dengan rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur maka negeri ini menjadi hampir 100% muslim; bahkan disebut sebagai negeri Muslim terbesar di dunia. Ini sebuah prestasi dakwah yang amat sangat luar biasa.  Secara pelan dan teratur, proses Islamisasi pun terus berjalan, dengan segala hambatan dan tantangannya. Para pejuang Islam itu terus berusaha meningkatkan kualitas keislaman masyarakat muslim Indonesia, setahap demi setahap. Dakwah tidak pernah berhenti. Laksana air, ia terus mengalir, mencari tempat-tempat yang bisa diairi arusnya.

Lalu, datanglah penjajah kuffar. Misi mereka pun jelas: gold, gospel, glory. Mereka merampok kekayaan alam negeri ini; berusaha memurtadkan kaum Muslim.  Indonesia dianggap sebagai negeri yang siap menerima misi Injil. Dengan segala kekuatan dan cara, proses pengkristenan negeri ini dilakukan oleh para penjajah dan kaum misionaris, tanpa pernah berhenti.

KM Panikkar menulis dalam bukunya Asia and Western Dominance: “Yang mendorong bangsa Portugal (untuk menjajah di Asia adalah) strategi besar melawan kekuatan politik Islam, melakukan Kristenisasi, dan keinginan untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah.” Ketika berhasil menduduki Malaka, D’albuquerqe berpidato, “Tugas besar yang harus kita abdikan kepada Tuhan kita dalam mengusir orang-orang Moor (Muslim) dari negara ini dan memadamkan api Sekte Muhammad sehingga ia tidak muncul lagi sesudah ini…” (Prof. Bilveer Singh, Timor Timur, Indonesia dan Dunia, Mitos dan Kenyataan, (Jakarta: IPS, 1998)).

Adalah sesuatu yang juga luar biasa, berkat lindungan dan pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala,  meskipun kuasa politik digenggam kaum kufar penjajah, selama ratusan tahun, mayoritas penduduk negeri ini masih tetap bertahan sebagai Muslim. Padahal, selama itu pula, proses Kristenisasi dan sekularisasi secara konsisten dipaksakan kepada kaum Muslim. Strategi merusak pemikiran dan aqidah umat Islam, juga devide et impera – pecah belah dan adu domba — cukup sukses dalam melemahkan kekuatan internal umat Islam.  Sudah menjadi sunnatullah, akan selalu terjadi benturan abadi  antara perjuangan menegakkan misi kenabian (Tauhidullah) dengan para pendukung kemusyrikan, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam memerintahkan umatnya: Jaahidul musyrikiina bi-amwaalikum wa-anfusikum wa-alsinatikum! (Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan hartamu, jiwamu dan dengan lidah-mu).

Alhamdulillah, usaha kemerdekaan untuk melepaskan diri dari penjajah kuffar berhasil. Kaum Muslimin mendukung sepenuhnya usaha kemerdekaan ini. Para ulama dan tokoh Islam melanjutkan perjuangan para ulama dan muballigh untuk menjadikan negeri ini sebagai negeri Muslim yang diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala, menjadi baldatun thayyibatun wa-rabbun ghafur.  Itulah negara yang diatur dengan nilai-nilai Islam, sebagaimana dulu, Rasulullah saw telah mewujudkan sebuah negara di Madinah dengan Piagam Madinah yang disebut sebagai konstitusi negara tertulis pertama di dunia (the first written constitution in the world).

Sepeninggal penjajah, kaum sekuler, kristen, komunis, dan sebagainya, terus berjuang tiada henti untuk mewujudkan negara sesuai dengan nilai-nilai yang mereka anut. Terjadilah pergulatan pemikiran dan aspirasi yang terus-menerus hingga kini. Pasca Perang Dingin, dengan dukungan kekuatan penguasa dunia dari peradaban Barat, kaum liberal-sekuler semakin mendapat angin untuk memposisikan Indonesia sebagai negara sekuler.

Mereka berhasil membajak pemahaman terhadap Pancasila dan memaksakan penafsiran sekuler atas Pancasila, sehingga Pancasila diajarkan di sekolah-sekolah sebagai “pandangan hidup” ,  “pedoman amal” dan sumber dari segala sumber hukum,  yang seharusnya merupakan wilayah Islam. Anak-anak kaum muslim dipaksa berpikir dualistis dan terbelah sikap dan pemikirannya. Sebab, anak-anak Muslim itu sudah diajar oleh para ulama, ustad, dan guru-guru agana, bahwa Islam adalah pandangan hidup dan sekaligus pedoman amal mereka. Pancasila dijadikan sebagai agama, atau diletakkan sejajar dengan agama. Itu jelas keliru dalam pandangan Islam.

Panggung politik
Sejalan dengan dominannya pandangan hidup sekuler,  dunia politik di Indonesia pun tampaknya semakin didomnasi wacana politik sekuler.  Wacana-wacana duniawi, urusan ekonomi, janji-janji kesejahteraan duniawi, menjadi sangat dominan. Wacana keimanan, akhlak, dan pembangunan jiwa menjadi terpinggirkan; dianggap “tidak laku dijual”. Panggung politik nyaris tak mendendangkan ‘nyanyian’ politisi Muslim  yang menyerukan secara terbuka pentingnya negara Indonesia ini hidup di bawah naungan al-Quran, merumuskan perundang-undangan yang bersumberkan syariat Islam, atau menolak perundang-undangan yang bertentangan dengan syariat Allah Subhanahu Wata’ala.

Bukankah aneh, jika aturan penjajah lebih dijunjung tinggi dibandingkan dengan aturan Tuhan Yang Maha Esa.

Kita sepertinya nyaris tak mendengar lagi politisi muslim yang secara terbuka mengupas kebobrokan pemikiran dan sistem kehidupan sekuler; yang menyatakan akan berjuang sekuat tenaga dalam menegakkan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan negara, jika mereka menduduki pos-pos kekuasaan. Jika politik semakin kehilangan wacana ideologis keislaman, maka dikhawatirkan, aspek-aspek pragmatisme akan semakin mendominasi. Jiwa pengorbanan akan sirna sejalan dengan merebaknya penyakit gila dunia.

Pada saat yang sama, kekuatan politik internal umat Islam, kini diwarnai dengan fragmentasi antar pegiat dakwah, dengan maraknya pendapat-pendapat yang mengharamkan keterlibatan kaum Muslimin ke dalam sistem parlemen bahkan pemerintahan, karena sistem ini dinilai sebagai sistem kufur. Di era Partai Islam Masyumi dulu, pendapat semacam ini tidak muncul. Para tokoh Islam bersepakat  “demokrasi” bukan merupakan sistem yang ideal. Tetapi, mereka menempuh cara-cara konstitusional untuk mengubah secara gradual sistem yang tidak ideal;  dari sistem demokrasi sekuler  menuju sistem dan kehidupan masyarakat yang lebih Islami.

Tujuannya sangat jelas: bagaimana mewujudkan tujuan perjuangan, yakni menjadikan Indonesia sebagai negeri Muslim yang menerapkan ajaran Islam dalam tataran individu, masyarakat, dan negara. Inilah yang dulu ditegaskan dalam tujuan perjuangan politik Partai Islam Masyumi, yakni:  ”Terlaksananya ajaran dan hukum Islam, di dalam kehidupan orang seorang , masyarakat dan negara Republik Indonesia, menuju keridhaan Ilahi.” (Anggaran Dasar Partai Masjumi, Pasal III).

Sebagai bagian kewajiban melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan taushiyah sesama Muslim, maka kita perlu mengimbangi dominasi wacana politik sekuler dengan menggelorakan terus-menerus wacana politik berbasis al-Quran.  Wacana politik sekuler yang hanya menekankan aspek materi dan duniawi, akan semakin menjauhkan bangsa muslim terbesar ini dari nilai-nilai dan ajaran Ilahi yang mengutamakan pembangunan iman dan taqwa. Padahal, Al-Quran sudah dengan tegas memberi kabar kepada bangsa kita semua, bahwa jika penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, maka pasti akan dikucurkan barakah Allah dari langit dan bumi.

Kita perlu mengoreksi konsep dan aplikasi pembangunan nasional yang terlalu dominan menekankan aspek dunia dan meteri serta mengabaikan pembangunan jiwa. Padahal, perintah Allah sangat jelas: “Sungguh beruntung manusia yang mensucikan jiwanya dan sungguh celaka, manusia yang mengotori jiwanya!”  (QS: 91:9-10). Pembangunan jiwa berdasarkan iman dan taqwa inilah yang seharusnya menjadi program utama pembangunan manusia Indonesia, sehingga tidak menjadikan manusia Indonesia sebagai manusia yang serakah dan sombong, yang dengan beraninya menolak konsep-konsep kehidupan yang bersumberkan pada wahyu Allah Subhanahu Wata’ala. Misi Ilahi inilah yang perlu digaungkan sekuat-kuatnya oleh para politisi Muslim dan partai Islam.

Karena itu, dengan niat beribadah karena Allah, dalam rangka kecintaan kita kepada negeri amanah Allah ini, agar tidak mendapatkan murka dan azab dari Allah Subhanahu Wata’ala —  karena mengingkari asas iman dan taqwa –  maka tidak berlebihan kiranya jika kita berusaha sekuat tenaga untuk  meneguhkan komitmen kita bersama, melanjutkan amanah perjuangan menegakkan misi kenabian; berusaha menyadarkan diri, keluarga, dan bangsa kita agar bersedia hidup DI BAWAH NAUNGAN AL-QURAN, menjunjung tinggi prinsip iman dan taqwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kita dicipta Allah dan kini ada di Indonesia, bukan tanpa makna. Kita dicipta untuk melanjutkan amanah risalah Sang Nabi tercinta. Kita hanyalah satu mata rantai dari serangkaian derap langkah panjangnya para Nabi utusan Yang Maha Kuasa. Kita tatap dengan semangat dan penuh optimis masa depan perjuangan Islam di Indonesia. Kita arahkan pandangan kita ke ufuk cakrawala yang jauh, tanpa mengabaikan realitas kondisi dan sitausi yang terjadi. Realitas penting untuk menjadi pertimbangan kita. Tetapi, misi abadi kenabian, penegakan kalimah Tauhid dan menebar rahmat ke seluruh alam, tidak boleh tenggelam oleh kepentingan pragmatis kekuasaan semata.

“Dialah Allah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan ad-Din yang Haq untuk dimenangkan atas berbagai agama lainnya, walaupun kaum musyrik membencinya.” (QS: ash-Shaf:9).

Ibrahim (a.s.) memang diusir dan dibakar oleh sang penguasa. Tapi, al-Quran lebih membela Ibrahim, dan sama sekali tidak bersimpati kepada raja yang musyrik dan zalim. Meskipun Firaun jauh lebih kuat dari Musa (a.s.), tapi al-Quran tidak pernah sedikit pun memberikan pujian untuk Fir’aun. Ketika kecil dan ketika kuat, Daud a.s. tetap dipuji karena keteguhannya memperjuangkan kalimah Tauhid.

Jika tidak ingin dimusuhi kaumnya yang musyrik, logikanya, lebih aman dan nyaman, jika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassallam tidak mendahulukan seruan tauhidnya dan mengkritisi kemusyrikan yang telah menjadi tradisi bangsanya. Meskipun ditentang keras, dimusuhi, diboikot, diancam dibunuh, dan sebagainya, Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassallam tetap mengajak kaumnya untuk meninggalkan agama mereka yang syirik dan memeluk Islam, mengakui Allah sebagaisatu-satunya Tuhan dan mengakui Muhammad saw sebagai utusan-Nya yang terakhir.

Mungkin, jika ingin dakwahnya diterima secara luas, tidak dimusuhi kaum dan keluarganya sendiri, dan bisa hidup lebih nyaman, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam hanya akan mengangkat isu-isu ekonomi dan  kesejahteraan, dengan – misalnya — membentuk semacam koperasi atau Perseroan Terbatas. Bangsa Arab akan menerima ajakan itu, karena Rasulullah saw juga pedagang yang sukses dan manusia terpercaya. Meski pun al-Quran memerintahkan kepedulian sosial yang tinggi sejak dakwah di periode awal di Makkah, tetapi seruan untuk menegakkan Tauhid adalah isu utama dalam dakwah Nabi.

Dan umat manusia menjadi saksi, di tengah ancaman, makian, hujatan, dan kesulitan hidup, Nabi Shallalu ‘alaihi Wassallam tetap tegar dalam menggaungkan tegaknya Tauhid. Sebab, hanya dengan semata-mata menghambakan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala itulah, maka manusia akan bisa hidup bahagia dunia dan akhirat;  bebas dari penindasan  antar sesama; bebas dari belenggu perbudakan setan. Memberantas korupsi itu sangat penting! Tetapi, memberantas kemusyrikan lebih penting lagi! Cukup sandang pangan dan papan itu harus, tetapi selamat iman,  wajib lebih dipentingkan. Sebab, tanpa iman, amal tiada nilainya, laksana fatamorgana yang tiada berharga. (QS 24:39).

Kita camkan benar peringatan al-Quran:

وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Jangan merasa hina dan jangan berduka! Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kalian mukmin!” (QS ali Imron [3]:139).

Umat Islam adalah ummatur-risalah. Kita mendapatkan amanah dari Allah Subhanahu Wata’ala. Kita kibarkan panji Tauhid, meski banyak yang enggan melirik, bahan ada yang sinis dan mencibirnya.  Kita pilih pemimpin terbaik, yang kita percayai memiliki ilmu dan pribadi unggul yang mampu memimpin dan membawa negeri ini kepada keberkahan Ilahi; pemimpin yang tawadhu’, tidak angkuh, tidak jumawa, ikhlas panca indera dan akalnya dipadukan dengan panduan wahyu Allah Subhanahu Wata’ala.

Perjuangan mengemban misi suci tidak pernah terlambat.  Kita mulai melangkah di tahun 2014 ini. Kita percaya, para politisi dan partai Islam juga merindukan dan mencitakan hal yang sama dengan kita semua. Kita mencitakan negeri kita menjadi negeri aman sejahtera, adil dan makmur, di bawah naungan ridha Ilahi.

Karena itu, bismillahirrahmanirrahim... dengan berusaha sekuat-kuatnya mengikhlaskan niat karena ibadah kepada Allah, kita bersihkan hati kita…  kita gaungkan sekeras-kerasnya dalam hati,  dan kita pancarkan gelombang kebenaran abadi sekuat-kuatnya melalui lisan kita:  SELAMATKAN INDONESIA DENGAN AL-QURAN!  Semoga dengan itu negeri kita berhak mendapatkan kucuran berkah Allah dan dijauhkan dari azab dan bencana.

Depok,  26 Maret 2014

Sumber : https//bit.ly/2AMy3p1


Larangan Mencabut Uban Dan Menurut Fakta Ilmiah

July 13, 2015

Uban merupakan rambut yang berubah warna dari hitam menjadi putih dan dianggap sebagai sebagai konsekuensi dari usia tua. Dahulu, uban hanya muncul bagi mereka yang telah lanjut usia, namun kini orang yang masih berusia muda bahkan masih anak-anak ada yang rambutnya sudah beruban. Hal ini disebabkan karena faktor genetis ataupun asupan nutrisi dari makanan yang diperolehnya.

Munculnya uban kerap membuat tidak nyaman sehingga ingin segera mencabut  atau mengganti warnanya dengan warna lain. Tidak sedikit pula yang mencabut uban dengan alasan supaya tampak tetap muda.

Ternyata kegiatan mencabut uban dilarang dalam dunia medis. Menurut laporan terbaru dari Livescience.com, rambut abu-abu yang kemudian memutih ini bisa menjadi tanda yang baik sehat. Studi ini dilakukan oleh peneliti dari Museo Museo Nacional de Ciencias Naturales di Spanyol, Ismael Galvan pada tahun 2012 lalu.

Dalam studinya Ismael Galvan telah menemukan bahwa orang yang memiliki uban justru panjang umur dan sehat.  Uban muncul karena berkurangnya kadar melanin yang merupakan faktor utama yang menentukan warna kulit dan rambut seseorang. Kebanyakan melanin akan membuat kulit dan rambut tubuh menjadi gelap. Jika melanin berkurang, ini pertanda bahwa tubuh sehat dan kulit menjadi normal.

Ismael Galvan menambahkan, mencabut uban berbahaya bagi kepala karena akan merusak  kondisi folikel, akar rambut dan saraf-saraf kepala. Dengan mencabut uban akibatnya jumlah rambut akan menipis lalu uban akan terlihat lebih banyak meskipun jumlahnya sama. Selain itu, kerusakan folikel akan berdampak pada kesehatan selaput kepala.

“Jauh dari tanda terkait penuaan, uban mengindikasikan kondisi yang baik,” ungkap Ismael Galvan

Sudah dilarang sejak 1400 tahun silam
Jika sains modern baru menemukan sekitar tiga tahun lalu terkait bahaya mencabut uban, maka Agama Islam telah melarang umatnya sejak 1400 tahun lalu agar tidak mencabut rambut putih ini. Melalui Nabi Muhammad SAW, Allah memerintahkan agar tidak mencabut uban dengan alasan keimanan. Namun ternyata, tidak melulu soal iman, Allah memiliki alasan medis tersendiri terhadap larangan ini.

Muhammad bin Hibban At Tamimi rahimahullah, yang lebih dikenal dengan Ibnu Hibban, dalam kitab Shahihnya menyebutkan pembahasan “Hadits yang menceritakan bahwa Allah akan mencatat kebaikan dan menghapuskan kesalahan serta akan meninggikan derajat seorang muslim karena uban yang dia jaga di dunia.”

Selain itu, Ibnu Hibban membawakan hadits berikut. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. Siapa saja yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat,” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Penelitian yang umumnya dilakukan oleh non muslim kerap kali menjadi penguat terhadap kebenaran Islam. Pengetahuan ini didapatkan Nabi Muhammad pada saat zaman masih sangat jauh dari sains dan teknologi. Dimana perintah dan larangan yang Ia berikan, hanya dilakukan  oleh umatnya sebagai bentuk ketaatan atas keimanan kepada Allah SWT. Namun ternyata, perintah dan larangannya memang mengandung pengetahuan yang tidak dibayangkan sebelumnya. Subhanallah.

sumber : infoyunik.blogspot.com

artikel terkait :
1. Kedahsyatan Uban
2. Hukum Mencabut Uban


Satrio Piningit Dalam Agama Wahyu

July 10, 2015


Di musim Pilkada dan Pemilu Nasional, kalau ada para politisi yang dirancang oleh ahli komunikasinya menisbatkan diri sebagai Satrio Piningit, maka itu adalah kebohongan besar. Mana ada politisi berjuang melawan ketidakadilan yang sangat militan sebagaimana militansi seorang Nabi membebaskan perbudakan.

Satrio Piningit dalam tradisi agama-agama langit biasa disebut sebagai paham “messianisme”. Cendikiawan Nurcholish Madjid pernah mengulas lengkap tentang paham ini. Ia mendefinisikan messianisme merupakan faham menantikan datangnya seorang "messiah" yang diharapkan menyelamatkan umat manusia.

Pembebasan tersebut dilakukan dengan cara berjuang melawan perilaku dan watak seenak perut sendiri sebuah rezim. Karena itu tema paling menonjol dari kehadiran seorang Messias adalah melawan ketidakadilan.

Perkataan "messiah" berasal dari bahasa Ibrani, yaitu "messiah". Kata ini padanan dari perkataan Arab “al-masih”. Dalam sejarah, mesianisme merupakan faham keagamaan yang sangat kuat dan muncul pertama kali di kalangan bangsa Yahudi. Ketika itu kaum Yahudi mengalami perbudakan di Babilonia sekitar tujuh abad lebih sebelum Masehi.

Perbudakan itu terjadi sebagai akibat kekalahan mereka menghadapi serbuan tentera Nebukadnezar yang menghancurkan negeri mereka. Ketika itu wilayah negeri Yahudi meliputi Samaria dan Judea, di Kanaan di Palestina Selatan dan di Yerusalem, tepatnya di Bait al-Maqdis yang menjadi ibukota mereka. Kaum Yahudi kala itu kalah, lalu diboyong ke lembah Mesopotamia untuk kerja paksa.

Dalam keadaan sangat tidak berdaya, kaum Yahudi begitu putus asa, sampai-sampai mereka memohon pembebasan kepada Tuhan. Merasa sebagai "manusia pilihan" (the chosen people), mereka yakin Tuhan pasti mengabulkan do'anya, yaitu dari langit akan diturunkan seseorang yang diutus sebagai juru selamat. Ia adalah seorang pemimpin agama sekaligus sebagai penguasa seperti raja. Secara pelahan tapi pasti, keyakinan pada kehadiran juru selamat dari langit  tumbuh permanen dalam bentuk kepercayaan keagamaan.

Tapi sebetulnya, perkataan "mesiah" yang padanannya dalam bahasa Arab "al-masih" mengandung arti yang sederhana. Secara harfiah, al-masih artinya "orang yang diusapi". Arti harfiah ini seringkali digunakan dalam bahasa Inggris dengan perkataan "the annointed one" atau wu’ dalam perkataan kaum muslim yang berarti “mengusap kepala”. Dan bukan kebetulan perkataan ini kemudian menjadi kalimat wudhu yang menekankan pada pensucian diri sebelum ritual shalat atau menghadap Tuhan.

Pengusapan kepala ini kalangan kaum Yahudi atau Bani Isra'il merupakan bagian penting dari upacara pengangkatan seseorang menjadi pemimpin agama sekaligus berperan sebagai penguasa atau raja. Kaum Yahudi menggunakan cara pengusapan kepala ini terhadap Nabi Dawud. Karena itulah, sebagai seorang yang berasal dari Bani Isra’il, Nabi Isa putera Maryam yang bergelar “al-Masih” merupakan pengakuan masyarakat kepadanya sebagai seorang pemimpin agama terkemuka.

Jadi gelar al-Masih dalam sistem keagamaan yang berakar dalam kebiasaan kalangan Yahudi, sebetulnya tidak secara khas hanya untuk Nabi Isa saja, tapi juga untuk para pemimpin agama di kalangan kaum Yahudi saat itu.

Tradisi semacam itu kemudian berkembang sedemikian rupa, dan digunakan oleh para penguasa Vatikan dalam memberikan berkah. Atau dalam pengangkatan raja-raja di Eropa, terutama di Inggris, yang seringkali kepalanya diusapi. Ini pertanda bahwa seseorang yang tampil sebagai penguasa mesti mensucikan diri. Sebab tugasnya yang memangku amanat yang agung.

Hari ini, seseorang yang tampil sebagai penguasa begitu mudah mengkhianati amanat tersebut. Pengusapan kepala yang disertai dengan sumpah memangku amanat tak lebih dari sekedar seremoni. Tidak ada perjuangan yang tampak sangat militan dari seorang pemimpin.

Di masa sekarang, perbudakan itu berupa cengkraman kaum pemodal. Mereka bukan saja menindas rakyat dengan memonopoli di segala sektor perekonomian, tapi juga menguasai kebijakan politik dengan menjadikan para elit politik, birokrat dan aparat sebagai ‘budak’ atau orang suruhannya.

Maka, dalam keadaan khianat terhadap amanat rakyat itulah, sebuah bangsa akan merasakan nasib sebagaimana halnya kaum Yahudi ketika masih menjadi budak. Mereka selalu mengharapkan perubahan nasib dan datangnya Juru Selamat dari langit.

Kalau menyambung sejarah penantian bangsa Yahudi yang terasing di Babilonia, pada akhirnya memang mereka dibebaskan dari perbudakan. Tapi itu bukan oleh kehadiran sang Juru Selamat,  melainkan oleh sebuah peristiwa.

Peristiwa itu adalah peperangan antara bangsa Persia versus Babilonia, dan kaum Yahudi ikut berjasa mengalahkan penguasa Babilonia. Peristiwa ini juga mengingatkan pada sejarah bangsa Inggris yang memenangi Perang Dunia ke-II, dan membalas jasa kepada kaum Zionis Yahudi dengan membuka jalan kepada mereka untuk membangun negara Israel di atas tanah Palestina..

Bangsa Persia pada masa dinasti Achaemenid juga mengizinkan kaum Yahudi kembali dari Babilonia ke Palestina. Maka tak mengherankan bila kaum kaum Yahudi saat itu menganggap bahwa bangsa Persia sebagai Juru Selamat atau Messiah. Tapi, karena yang memimpin mereka kembali ke Palestina itu adalah seorang nabi yang bernama 'Uzayr, maka banyak orang Yahudi yang percaya bahwa Uzayr inilah Sang Juru selamat sesungguhnya. Bahkan sekelompok orang Yahudi yakin tokoh ini merupakan “anak Allah” (ibn al-Lah). ***

sumber : indonesianreview.com