Persis Dalam Perjalanan Sejarah

October 5, 2010

Berdirinya Persatuan Islam (Persis) diawali dengan terbentuknya suatu kelompok tadarusan yang bermula dari sebuah kenduri keluarga di kota Bandung tepatnya di gang Pakgade. Kelompok ini dipimpin oleh H. Muhammad Zamzam dan H. Muhammad Yunus. Bersama jama’ahnya dengan penuh kecintaan mereka mengkaji dan mengaji ajaran Islam.

Persis secara formal didirikan pada tanggal 12 September 1923 di Bandung,, oleh sekelompok umat Islam yang tertarik pada kajian dan aktivitas keagamaan. Sebelumnya juga sudah berdiri beberapa oraganisasi gerakan dan klub untuk tujuan religius, sosial, pendidikan, politik dan ekonomi di Indonesia. Seperti Budi Utomo pada 1908, Sarikat Islam pada tahun 1912 dan Muhammadiyyah pada tahun 1912.

Sejak berdirinya Persis yang menggolongkan dirinya sebagai harakah tajdid (Gerakan Pembaharu) yang bertujuan memurnikan ibadah umat dari takhayul, bid’ah, dan churafat (TBC) sangat giat melaksanakan penyebaran faham Al-Qur-an dan As-sunah. Gerakan pemurnian (furipikasi) agama Islam dilakukan dengan isu kontroversial yang bersifat gebrakan (shock therapy) dalam pendekatan yang lebih polemik dan mengundang kontroversi bahkan terkesan revolusioner. Pemurnian aqidah dan perbaikan ibadah, dilakukan karena Persis memandang telah terjadi kerusakan akidah (pencemaran) dan penyimpangan praktek ibadah pada umat Islam.

Kepemimpinan Persis periode pertama (1923 1942) berada di bawah pimpinan H. Zamzam, H. Muhammad Yunus, Ahmad Hassan, dan Muhammad Natsir yang menjalankan roda organisasi pada masa penjajahan kolonial Belanda, dan menghadapi tantangan yang berat dalam menyebarkan ide-ide dan pemikirannya.
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), ketika semua organisasi Islam dibekukan, para pimpinan dan anggota Persis bergerak sendiri-sendiri menentang usaha Niponisasi dan pemusyrikan ala Jepang. Hingga menjelang proklamasi kemerdekaan Pasca kemerdekaan. Persis mulai melakukan reorganisasi untuk menyusun kembali system organisasi yang telah dibekukan selama pendudukan Jepang, Melalui reorganisasi tahun 1941, kepemimpinan Persis dipegang oleh para ulama generasi kedua diantaranya KH. Muhammad Isa Anshari sebagai ketua umum Persis (1948-1960), K.H.E. Abdurahman, Fakhruddin Al-Khahiri, K.H.O. Qomaruddin Saleh, dll. Pada masa ini Persis dihadapkan pada pergolakan politik yang belum stabil; pemerintah Republik Indonesia sepertinya mulai tergiring ke arah demokrasi terpimpin yang dicanangkan oleh Presiden Soekarno dan mengarah pada pembentukan negara dan masyarakat dengan ideology Nasionalis, Agama, Komunis (Nasakom).

Setelah berakhirnya periode kepemimpinan K.H. Muhammad Isa Anshary, kepemimpinan Persis dipegang oleh K.H.E. Abdurahman (1962-1982) yang dihadapkan pada berbagai persoalan internal dalam organisasi maupun persoalan eksternal dengan munculnya berbagai aliran keagamaan yang menyesatkan seperti aliran pembaharu Isa Bugis, Islam Jama’ah, Darul Hadits, Inkarus Sunnah, Syi’ah, Ahmadiyyah dan faham sesat lainnya.

Kepemimpinan K.H.E. Abdurahman dilanjutkan oleh K.H.A. Latif Muchtar, MA. (1983-1997) dan K.H. Shiddiq Amien (1997-2005 dan 2005-2009)

read full article

persis.or.id/?mod=content&cmd=news&berita_id=1313

sumber: persis.or.id

No comments:

Post a Comment